Jabar

KPAI Rilis Temuan Pengawasan Program Pendidikan Barak Militer, Ketua LPAI: Jangan Gengsi untuk Jadikan Gerakan Nasional

| 22 Mei 2025, 09:57 WIB
KPAI Rilis Temuan Pengawasan Program Pendidikan Barak Militer, Ketua LPAI: Jangan Gengsi untuk Jadikan Gerakan Nasional

AKURAT JABAR - Program kegiatan Pendidikan Karakter Pancawaluya di barak militer resmi berakhir bertepatan dengan momentum upacara peringatan Harkitnas ke-117, Selasa (20/5/2025).

Sebanyak 273 pelajar SMA/SMK Jawa Barat telah selesai dan dinyatakan lulus mengikuti pendidikan karakter Gapura Panca Waluya di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi, Cikole Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

Mereka kemudian kembali pulang setelah 18 hari ditempa untuk menjalani penguatan pendidikan karakter kedisiplinan dan bela negara di barak militer.

Baca Juga: Harkitnas 2025, KDM: Dari Program Barak Militer, Hingga Kebangkitan Sekolah Kebangsaan Jawa Barat Istimewa

Sebelumnya, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merilis hasil pengawasan pelaksanaan Program Pendidikan Panca Waluya Jawa Barat Istimewa yang dikeluarkan di Jakarta, (16/5/2025).

Melalui konferensi persnya, KPAI mengeluarkan sejumlah temuan dan rekomendasi untuk dijadikan dasar evaluasi pelaksanaan Program Pendidikan Panca Waluya tersebut.

Anggota KPAI Aris Adi Leksono menegaskan bahwa Program Pendidikan Panca Waluya belum mengacu pada regulasi pendidikan anak, standar pelaksanaan yang seragam dan tidak ada asesmen psikolog profesional.

Baca Juga: Harkitnas 117 Tahun, Gubernur KDM Jadikan Peserta Barak Petugas Upacara: Bangkitlah Anak Mudaku, Bangkitlah Indonesiaku!

Ia juga menilai rentan memunculkan stigma dan labeling diskriminatif terhadap anak, serta minim melibatkan partisipasi anak secara utuh.

Hal itu ia sampaikan dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Antara Harapan dan Ancaman Tumbuh Kembang Anak" melibatkan unsur pemerintah, akademisi, psikolog, lembaga perlindungan anak, guru dan ormas, Senin (19/5/2025).

Meski demikian, Aris mengungkapkan bahwa program tersebut memiliki potensi positif dengan memperhatikan regulasi perlindungan anak, sistem asesmen kuat, serta prinsip perlindungan anak.

Baca Juga: Pelatihan Pelajar di Barak Militer Purwakarta Berakhir, Bupati Om Zein: Perketat Program Pendidikan Selanjutnya

Sejumlah pihak menyoroti hal yang sama, yakni penguatan regulasi nasional, mereka mendorong Mendikdasmen agar memperkuat pelaksanaan Permendikbud Nomor 72 Tahun 2016 tentang pendidikan layanan khusus (PLK).

Hal ini dimaksudkan agar program seperti yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terkait pendidikan karakter, dapat diimplementasikan secara tepat di setiap daerah.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi - akrab disapa Kak Seto juga hadir dalam FGD tersebut. Ia mengapresiasi telah diselenggarakannya acara FGD tersebut.

Baca Juga: KPAI Kunjungi Barak Militer, Lakukan Pengawasan Perlindungan Anak Pada Program Pendidikan Karakter di Purwakarta

Ia mengatakan bahwa program ini mengisi pendidikan non formal yang melengkapi dan bukan pelimpahan tanggungjawab orang tua ataupun sekolah.

"Pendidikan nonformal harus jadi pelengkap yang disesuaikan dengan kebutuhan anak, bukan hukuman. Tapi program ini juga tidak perlu dihentikan. Perlu dipantau sampai akhir dan dievaluasi," ujar Kak Seto.

Dalam kesempatan lain, Kak Seto juga hadir menyaksikan pelepasan para pelajar peserta Pendidikan Karakter Panca Waluya Jabar pasca upacara Peringatan Harkitnas 2025.

Baca Juga: Kak Seto Datangi Barak Militer, Tinjau Langsung Pendidikan Karakter Panca Waluya: Tak Ada Pelanggaran Hak Atas Anak!

Ia menilai program Bela Negara tersebut sebagai langkah gemilang, karena dapat menyalurkan setiap potensi anak yang sebelumnya kesulitan berkembang akibat faktor lingkungan dan keluarga.

“Dari awal ketika saya ditanya, beri kesempatan. Saya lihat sendiri, saya berbicara sendiri dengan anak-anak,” ujar Kak Seto usai upacara Harkitnas di Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa (20/5/2025).

“Sampai saat ini saya menyimpulkan bahwa ini adalah satu langkah yang sangat gemilang, " imbuhnya.

Baca Juga: Masuk Barak Militer, 274 Siswa SMA/SMK di Jabar Jalani Pendidikan Karakter Pancawaluya

Setiap anak - lanjut Kak Seto, pada dasarnya kreatif, energik penuh dengan dinamika. Namun karena lingkungan kurang kondusif, akhirnya ada penyimpangan dan program ini telah menyalurkan potensi mereka.

Untuk itu, ia mengaku akan terus memantau perkembangan program tersebut, serta terus mendorong evaluasi secara eksternal sebagai bahan dalam upaya perbaikan.

“Tetap harus dievaluasi sampai akhir, beberapa juga akan kami ikuti sehingga kalau itu hasilnya adalah positif, mohon jangan ragu-ragu. Mohon maaf jangan gengsi untuk dijadikan suatu gerakan nasional,” ungkapnya.

Baca Juga: Menkomdigi Kunjungi Barak Militer di Purwakarta, Meutya Hafid: Jawa Barat Jadi Program Percontohan

Kak Seto juga mengingatkan, baik pendidikan formal maupun informal dalam keluarga butuh dilengkapi dengan pendidikan non formal. Maka, ia menyebut salah satu alternatifnya adalah Bela Negara di Dodik Rindam III/Siliwangi.

Ia juga menambahkan, bahwa pada dasarnya anak membutuhkan uluran cinta dan kasih sayang dari orang tua, guru dan tidak terkecuali juga dari para pemimpinnya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Dedi Mulyadi menyaksikan momen haru saat para peserta pendidikan karakter menangis dipelukan orang tuanya.

Baca Juga: Disdik Purwakarta Gandeng Psikolog, Berikan Konseling Bagi Orang Tua yang Anaknya Dididik di Barak Militer

“Ini salah satu contoh alternatif dan terbukti tadi. Dan saya saja yang lebih tegas, juga terpaksa meneteskan air mata karena terharu, tadi ada ibu yang sampai pingsan," ucap Dedi.

Namun, tidak semua anak dijemput oleh orang tuanya, sebagian dari mereka ada yang berstatus yatim. Untuk itu, Dedi merangkul mereka dan mengangkat mereka sebagai anak angkat. 

"Ini kan urusannya soal rasa, hati, dan cinta. Siapa sih orang tua tidak terharu bertemu anaknya yang sudah berubah," ujar Dedi usai rangkaian acara di Gedung Sate, Selasa (20/5/2025).

Baca Juga: Disdik Purwakarta Gandeng Dinsos Bidang P3A, Beri Layanan Konseling Klasikal Bagi Peserta Didik di Barak Militer

Program yang diinisiasi oleh KDM - sapaan akrab Dedi Mulyadi tersebut merupakan salah satu ikhtiar dalam membangun hubungan emosional antara pihak pemerintah dengan masyarakatnya.

Ia juga mengaku akan mengembangkan program tersebut menjadi Sekolah Kebangsaan Jawa Barat Istimewa, yang tetap akan berpusat di Dodik Bela Negara Rindam III Siliwangi.

Sekolah tersebut nantinya akan dibuat lebih terbuka untuk dapat bekerja sama dan berkolaborasi dengan pihak lain.

Baca Juga: Dedi Mulyadi: Kenakalan Remaja Sebagai Ancaman Sistemik Pelemahan Generasi Bangsa Indonesia

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.