Pemprov Jabar Benahi Kawasan Stadion GBLA, Akses Tol, Banjir, hingga Hunian Warga Jadi Prioritas

AKURAT JABAR – Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan pembenahan terpadu di kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung. Program ini tidak hanya menyasar akses transportasi bagi suporter Persib Bandung, tetapi juga penanganan banjir, peningkatan fasilitas stadion, serta penyelesaian persoalan hunian warga terdampak.
Rencana tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang melibatkan sejumlah pihak terkait, termasuk pengelola stadion dan pemerintah daerah. Pembenahan kawasan GBLA diarahkan untuk meningkatkan kenyamanan masyarakat sekaligus memperkuat kesiapan stadion dalam mendukung penyelenggaraan pertandingan sepak bola berskala besar.
Informasi mengenai rencana itu dipublikasikan Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Jawa Barat pada 13 Oktober 2026. Sejumlah pekerjaan masih berada dalam tahap perencanaan dan koordinasi sehingga pelaksanaan, jadwal, serta hasil akhirnya perlu menunggu kepastian dari instansi terkait.
Akses Tol KM 149 Jadi Perhatian untuk Mengurai Kemacetan
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian pemerintah adalah kelancaran arus kendaraan menuju Stadion GBLA, terutama ketika Persib Bandung menjalani pertandingan kandang.
Pada hari pertandingan, pergerakan suporter dan kendaraan di sekitar stadion membutuhkan pengaturan akses yang memadai. Karena itu, pemerintah merencanakan optimalisasi sejumlah akses tol dan jalur alternatif untuk membantu mengurangi kepadatan lalu lintas.
Area tol KM 149 menjadi salah satu titik yang masuk dalam rencana koordinasi. Pemerintah akan berkoordinasi dengan PT Jasa Marga untuk membahas kemungkinan pemanfaatan akses tersebut bersama sejumlah titik alternatif lainnya.
Meski demikian, rencana tersebut belum dapat diartikan sebagai kepastian bahwa seluruh akses akan langsung dibuka untuk umum. Kesiapan teknis, kewenangan pengelola jalan tol, pengaturan lalu lintas, serta aspek keselamatan tetap perlu diperhitungkan sebelum pelaksanaan.
Selain akses kendaraan, pemerintah juga menaruh perhatian pada penerangan jalan umum (PJU), kebersihan lingkungan, dan penataan kawasan luar stadion. Ketiga aspek tersebut berperan penting dalam memberikan kenyamanan bagi suporter maupun masyarakat yang beraktivitas di sekitar GBLA.
Kerja sama dengan Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten (bank bjb) juga disebut sebagai bagian dari upaya pengelolaan kawasan. Namun, bentuk dukungan dan mekanisme kerja sama tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut dari pihak terkait.
Renovasi Stadion GBLA Ditargetkan Mendukung Standar Internasional
Pembenahan tidak berhenti pada akses menuju stadion. Pemerintah juga merencanakan peningkatan fasilitas GBLA melalui kerja sama antara pemerintah daerah dan pengelola stadion.
Nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) direncanakan menjadi salah satu landasan untuk mendorong peningkatan fasilitas dan renovasi secara bertahap. Dalam informasi yang dipublikasikan Bapenda Jabar, penyelesaian MoU tersebut direncanakan pada 2027.
Rencana peningkatan fasilitas ini memiliki arti penting bagi GBLA sebagai kandang Persib Bandung sekaligus salah satu infrastruktur olahraga utama di Jawa Barat.
Stadion yang dipersiapkan untuk pertandingan berlevel tinggi membutuhkan fasilitas yang memadai. Aspek tersebut mencakup keamanan, kenyamanan penonton, akses masuk dan keluar, penerangan, sanitasi, serta kesiapan fasilitas pendukung pertandingan.
Kebutuhan itu juga relevan dengan agenda kompetisi internasional. Pada 9 Juli 2026, Okezone melaporkan bahwa perwakilan ASEAN Football Federation (AFF) bersama Sportfive melakukan pemeriksaan kelayakan GBLA menjelang ASEAN Club Championship musim 2026–2027.
Dalam laporan tersebut, Match Commissioner AFF, Vo Huy The, menyampaikan, “Kami ingin meninjau fasilitas stadion dan kesiapan Persib untuk Shopee Cup nanti. Bila ada temuan yang harus dibenahi atau ditambah, kami akan sampaikan nanti,” seperti dikutip Okezone dari laman Persib.
Pernyataan tersebut berkaitan dengan inspeksi kesiapan stadion untuk kompetisi, bukan pernyataan langsung mengenai program renovasi Pemprov Jabar. Meski berbeda konteks, pemeriksaan itu memperlihatkan pentingnya pemeliharaan dan evaluasi fasilitas stadion secara berkelanjutan.
Dengan demikian, rencana peningkatan GBLA perlu disertai kejelasan mengenai tahapan pekerjaan, kebutuhan anggaran, pembagian tanggung jawab, dan standar fasilitas yang hendak dipenuhi.
Normalisasi Sungai dan Drainase Disiapkan untuk Mengurangi Risiko Banjir
Persoalan lain yang masuk dalam agenda pembenahan kawasan GBLA adalah banjir yang disebut kerap melanda wilayah sekitar akibat aliran air dari kawasan lain.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah merencanakan normalisasi sungai secara menyeluruh dan terukur. Langkah yang disebutkan meliputi pelebaran alur sungai, pemasangan penyaring sampah atau trash rack, serta pembangunan sudetan drainase sebagai solusi jangka panjang.
Pemasangan trash rack direncanakan disertai penugasan petugas khusus. Keberadaan petugas diperlukan agar sampah yang tertahan tidak menumpuk dan menghambat aliran air.
Sementara itu, normalisasi sungai dan pembangunan sudetan membutuhkan perencanaan teknis yang cermat. Kajian kondisi aliran air, kapasitas drainase, karakteristik wilayah, serta dampak terhadap lingkungan perlu menjadi bagian dari pelaksanaan.
Pemerintah juga menyebut pelibatan tenaga profesional berpengalaman untuk mendukung pekerjaan teknis tersebut.
Penanganan banjir tidak cukup dilakukan melalui pengerukan atau pelebaran saluran semata. Pemeliharaan berkala, pengelolaan sampah, dan koordinasi antardaerah juga penting untuk menjaga efektivitas sistem drainase.
Hingga informasi yang dipublikasikan pada 13 Oktober 2026, rincian mengenai jadwal pengerjaan, nilai anggaran, lokasi teknis setiap pekerjaan, dan target penyelesaian belum dipaparkan secara lengkap. Karena itu, perkembangan pelaksanaan program masih perlu dipantau.
Relokasi Warga Terdampak Menjadi Bagian dari Pembenahan Kawasan
Di tengah rencana peningkatan infrastruktur, pemerintah juga menempatkan persoalan sosial sebagai salah satu perhatian utama.
Relokasi warga terdampak di sekitar kawasan GBLA direncanakan berjalan melalui pola pembangunan hunian yang terstruktur. Dalam skema yang dijelaskan, pemerintah menyiapkan anggaran dan material, sedangkan pengerjaan hunian dilakukan dengan melibatkan warga melalui semangat gotong royong.
Pola tersebut diharapkan dapat membantu warga memperoleh tempat tinggal yang lebih layak dan aman. Pelibatan masyarakat juga berpotensi mendorong partisipasi warga dalam proses pembangunan.
Namun, pelaksanaan relokasi memerlukan kejelasan mengenai jumlah keluarga terdampak, lokasi hunian pengganti, status penguasaan lahan, serta jadwal pemindahan.
Kepastian mengenai hak warga dan kelayakan tempat tinggal juga perlu menjadi perhatian. Proses relokasi yang baik tidak hanya berorientasi pada penataan wilayah, tetapi harus memastikan masyarakat memperoleh perlindungan dan akses terhadap kebutuhan dasar.
Selain itu, komunikasi antara pemerintah dan warga diperlukan agar tahapan pembangunan dapat dipahami bersama. Informasi mengenai mekanisme pendataan, kriteria penerima hunian, dan saluran pengaduan perlu disampaikan secara terbuka.
Hingga saat ini, rincian mengenai jumlah warga yang akan direlokasi dan waktu pembangunan hunian belum dijelaskan dalam publikasi yang menjadi rujukan.
Koordinasi Lintas Instansi Menentukan Realisasi Program
Pembenahan kawasan GBLA melibatkan sejumlah kepentingan yang saling berkaitan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, pemerintah daerah setempat, pengelola stadion, Jasa Marga, bank bjb, serta instansi teknis lainnya memiliki peran sesuai kewenangan masing-masing.
Koordinasi diperlukan agar peningkatan akses transportasi tidak berjalan terpisah dari pengelolaan lingkungan dan penanganan banjir. Begitu pula, renovasi stadion perlu diselaraskan dengan kebutuhan operasional serta keselamatan pengunjung.
Di sisi lain, penyelesaian persoalan hunian warga harus berjalan dengan memperhatikan aspek sosial dan kepastian pelaksanaan.
Publik juga membutuhkan informasi yang terukur mengenai perkembangan setiap program. Indikator seperti jadwal pengerjaan, anggaran, target penyelesaian, serta instansi penanggung jawab dapat menjadi dasar untuk menilai kemajuan pembenahan.
Rencana tersebut diharapkan mampu menjadikan kawasan GBLA lebih tertata, nyaman, dan siap mendukung kegiatan olahraga berskala besar. Namun, keberhasilan program pada akhirnya akan ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan, transparansi, dan evaluasi di lapangan.
Bagi suporter Persib Bandung, akses yang lebih lancar dan fasilitas yang memadai akan mendukung pengalaman menonton pertandingan. Bagi warga sekitar, penanganan banjir dan kepastian hunian menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting.
Karena itu, pembenahan GBLA idealnya tidak hanya berorientasi pada stadion sebagai tempat pertandingan, tetapi juga pada kualitas lingkungan dan keselamatan masyarakat yang tinggal serta beraktivitas di sekitarnya.(Red)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Sinergi HMTI dan HMM STT Wastukancana: Diki Firmansah & Divisi Kerohanian Dorong Budaya Berbagi Mahasiswa
- 2Aksi Nyata Mahasiswa Purwakarta: HMTI dan HMM STT Wastukancana Gelar Kajian dan Santunan
- 3Mengenal Habibi Samsul Bahri, Bakal Calon BPD Cikumpay dari RW 02
- 4Persib Tekuk Cong Viettel, Dua Kartu Merah Warnai Duel Panas ACL Two
- 5ATS di Jawa Barat Turun 138.989 Anak, Pangandaran Catat Penurunan Tertinggi
- 6Respon Tegas Om Zein Wajibkan Siskamling dan Jam Malam Siswa di Purwakarta
- 7Pemprov Jabar Bentuk Tim Pemburu Anak Tidak Sekolah, Sekda Herman Siap Turun Langsung
- 8HMM dan HMTI STT Wastukancana Perkuat Kepedulian Sosial Melalui Santunan Anak Yatim
- 9Pemprov Jabar Benahi Kawasan Stadion GBLA, Akses Tol, Banjir, hingga Hunian Warga Jadi Prioritas
- 10Varietas Cabai Tahan Penyakit Jadi Strategi Hadapi Kemarau Panjang









