Jawa Barat Alami Deflasi 0,09 Persen di Awal 2026, Kota Bekasi Justru Catat Inflasi

AKURAT JABAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat melaporkan fenomena deflasi Jawa Barat awal 2026 sebesar 0,09 persen secara bulanan (month-to-month).
Penurunan harga sejumlah bahan pokok menjadi faktor utama pendorong kondisi ekonomi tersebut di tingkat provinsi.
Menariknya, di saat hampir seluruh wilayah mengalami deflasi, Kota Bekasi justru mencatatkan inflasi sebesar 0,07 persen.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Jawa Barat, Ninik Anisah, mengungkapkan bahwa kenaikan tarif rumah sakit swasta dan harga emas menjadi pemicu utama inflasi di kota tersebut.
Penyebab Inflasi Tunggal di Kota Bekasi
Ninik menjelaskan bahwa kenaikan biaya kesehatan di rumah sakit swasta menjadi pembeda signifikan bagi Kota Bekasi dibandingkan wilayah lainnya.
Selain itu, tren harga emas perhiasan yang meningkat turut memberikan andil terhadap angka inflasi di wilayah penyangga Jakarta tersebut.
“Kalau kita lihat selain akibat harga emas, tarif rumah sakit swasta di Kota Bekasi itu mengalami peningkatan. Namun, untuk komoditas lainnya antar kabupaten/kota tidak jauh berbeda,” jelas Ninik di Gedung BPS Jawa Barat, Bandung, Senin (2/2/2026).
Baca Juga: BPS Jabar Catat Adanya Kenaikan Ekspor Jawa Barat
Sementara itu, mayoritas wilayah pantauan di Jabar konsisten mengalami deflasi.
Kota Bogor mencatat angka 0,21 persen, Kota Bandung 0,09 persen, dan Kota Cirebon menjadi yang terdalam dengan angka 0,44 persen. Wilayah lain seperti Subang, Majalengka, dan Tasikmalaya juga mengikuti tren serupa.
Baca Juga: BPS Jabar Rilis Kenaikan Wisatawan Ke Jawa Barat Melalui BIJB
Komoditas Pangan Dorong Penurunan Harga
Selanjutnya, BPS merinci bahwa kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau menyumbang deflasi terbesar hingga 0,91 persen.
Komoditas cabai merah memberikan andil deflasi sebesar 0,10 persen, diikuti cabai rawit, daging ayam ras, serta bawang merah masing-masing 0,06 persen.
Di sisi lain, sektor transportasi juga turut mengalami deflasi sebesar 0,26 persen. Meski harga pangan menurun, masyarakat perlu mewaspadai kenaikan beberapa komoditas yang memberikan andil inflasi.
Emas perhiasan menjadi penyumbang tertinggi sebesar 0,18 persen, disusul oleh tomat, ikan kembung, bawang putih, dan beras.
Sehingga, tren penurunan harga pangan berhasil menekan angka inflasi umum di Jawa Barat pada pembukaan tahun ini.
Dengan demikian, pemerintah daerah diharapkan tetap memantau fluktuasi harga komoditas penting seperti beras dan emas agar daya beli masyarakat tetap terjaga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Milad KAHMI ke-60 di Purwakarta Diwarnai Jalan Santai dan Gerakan Ngosrek
- 2Bermodal Prestasi di Hangzhou, Timnas PUBG MOBILE Indonesia Kejar Medali di Asian Games 2026
- 3KOHATI Purwakarta Peringati Dies Natalis ke-60, Tegaskan Perempuan Harus Bernilai dan Berdaulat
- 4Bermodal Prestasi di Hangzhou, Timnas PUBG MOBILE Indonesia Kejar Medali di Asian Games 2026
- 5DPRD Jabar Dorong Investasi Tetap Jaga Pohon dan Ruang Terbuka Hijau







