Jabar

Operasi Modifikasi Cuaca BNPB Tabur 16 Ton Bahan Penyemai di Wilayah Langit Jabar

| 12 Juli 2025, 15:47 WIB
Operasi Modifikasi Cuaca BNPB Tabur 16 Ton Bahan Penyemai di Wilayah Langit Jabar

AKURAT JABAR - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah memasuki hari keempat pada Kamis (10/7/2025). 

Selama pelaksanaan tersebut, BNPB telah menaburkan total 16 ton bahan penyemaian ke atmosfer melalui 18 kali penerbangan. Bahan tersebut terdiri dari 12,4 ton Natrium Klorida (NaCl) dan 3,6 ton Kalsium Oksida (CaO).

Dua pesawat jenis Caravan dengan nomor registrasi PK-DPI dan PK-SNL yang berasal dari Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, digunakan secara bergantian untuk menaburkan bahan di wilayah langit Pesisir Utara dan Selatan Jawa Barat selama kurun waktu 24 jam secara berkala.

Baca Juga: Tekan Risiko Banjir Jabodetabek, BMKG Galakan Operasi Modifikasi Cuaca 24 Jam

Lokasi penyemaian dipusatkan di kawasan perairan utara Karawang, Bekasi, Indramayu, dan sekitarnya, termasuk daerah hulu sungai yang mengalir ke wilayah rawan banjir di Jabodetabek.

Secara teknis, kedua pesawat tersebut mampu membawa hingga satu ton bahan semai untuk disebarkan di udara. Natrium Klorida, senyawa mirip garam, digunakan untuk membantu proses kondensasi pada awan sehingga dapat mempercepat terbentuknya hujan.

Tujuan penyemaian NaCl ini adalah untuk memicu hujan agar jatuh di wilayah laut, guna mengurangi potensi hujan deras di daratan. Sementara itu, Kalsium Oksida digunakan untuk meningkatkan intensitas hujan, memungkinkan distribusi curah hujan dapat diarahkan ke wilayah yang telah ditentukan.

Baca Juga: Kurangi Resiko Banjir, Gubernur Dedi Mulyadi Lakukan Modifikasi Cuaca 10 Hari

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa kegiatan ini adalah bagian dari langkah pemerintah dalam menangani kondisi darurat akibat cuaca ekstrem selama musim kemarau basah yang tengah terjadi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat.

OMC ini dilaksanakan oleh BNPB dengan dukungan dari BMKG dan TNI AU.

Operasi ini direncanakan berlangsung dari Senin hingga Jumat (7–11 Juli), sebagai respons cepat pemerintah menyusul hujan deras yang terjadi pada Minggu (6/7), yang telah menyebabkan banjir di beberapa daerah di Jawa bagian barat.

"OMC bertujuan untuk mengurangi hujan dengan intensitas tinggi yang diperkirakan masih akan turun pada dasarian pertama Juli 2025," ucap Abdul Muhari.

Baca Juga: Pemprov Jabar Gelar Operasi Modifikasi Cuaca untuk Mitigasi Bencana Hidrometeorologi

Selama empat hari pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), satuan tugas gabungan OMC Jabodetabek mencatat adanya penurunan intensitas hujan secara signifikan, yakni antara 30 hingga 60 persen di wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Bahkan dalam dua hari terakhir, kondisi cuaca di Jakarta cenderung cerah tanpa hujan.

Dengan berkurangnya curah hujan, diharapkan berbagai upaya penanggulangan banjir di wilayah hilir seperti pemompaan air, pengeringan area terdampak, serta penguatan tanggul di lokasi yang masih tergenang, dapat dilakukan secara lebih maksimal.

BNPB bersama tim OMC lintas instansi optimis bahwa langkah mitigasi ini akan membawa dampak nyata bagi masyarakat.

Data prakiraan cuaca dalam dua hari terakhir menunjukkan bahwa potensi hujan di wilayah barat Pulau Jawa mengalami kecenderungan menurun.

Baca Juga: 100 Ton Garam Khusus Disemai di Langit Jabar, Modifikasi Cuaca Berhasil Tekan Curah Hujan Hingga 40 Persen

Namun demikian, berdasarkan pantauan BMKG, pada tanggal 12 Juli 2025, diperkirakan akan terjadi peningkatan aktivitas gelombang atmosfer yang dapat berdampak cukup besar di beberapa wilayah Indonesia.

Peluang terjadinya cuaca ekstrem juga teridentifikasi di kawasan Indonesia bagian timur, dengan meningkatnya aktivitas atmosfer yang berpotensi memicu hujan lebat.

BNPB dan BMKG kemudian melakukan evaluasi bersama setelah masa pelaksanaan OMC berakhir. Evaluasi ini penting guna mempertimbangkan kelanjutan misi operasi.

Abdul Muhari mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau basah ini.

Baca Juga: Pemprov Jawa Barat Kunjungi BMKG, Inisiasi Kerja Sama Lanjutan dalam Bidang MKG

Ia juga mengimbau agar masyarakat mengikuti informasi prakiraan cuaca secara berkala guna mengantisipasi risiko cuaca ekstrem.

"Pemerintah Daerah diharapkan dapat memeriksa secara rutin infrastruktur mitigasi banjir seperti penguatan tanggul dan pembersihan saluran drainase primer," ungkap Abdul.

"Masyarakat dapat berpatisipasi dalam pencegahan risiko bencana dari lingkup terkecil atau keluarga dengan cara membersihkan saluran air, memeriksa kekuatan atap dan bangunan rumah, memangkas pepohonan yang rawan tumbang, serta menyusun rencana evakuasi bersama keluarga," tandasnya.

Baca Juga: Mitigasi Ancaman Geohidrometeorologi, Pemdaprov Jabar - BMKG Jalin Kerjasama

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.