KOHATI Purwakarta Peringati Dies Natalis ke-60, Tegaskan Perempuan Harus Bernilai dan Berdaulat

AKURAT JABAR – Korps HMI-Wati (KOHATI) Cabang Purwakarta memperingati Dies Natalis KOHATI ke-60 dengan mengangkat tema “KOHATI Bernilai, Perempuan Berdaulat”.
Kegiatan tersebut berlangsung di Rumah Tumbuh Farm, Kecamatan Bojongloa, Kabupaten Purwakarta, Jumat, 25 September 2026, mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai.
Agenda ini diselenggarakan KOHATI Cabang Purwakarta sebagai momentum refleksi perjalanan organisasi sekaligus membicarakan peran perempuan menghadapi berbagai perubahan zaman.
Peringatan enam dekade KOHATI tidak hanya ditempatkan sebagai agenda seremonial. Sejumlah kader dan alumni KOHATI melihat usia 60 tahun sebagai kesempatan untuk mengevaluasi proses kaderisasi, memperkuat kapasitas perempuan, serta memastikan nilai-nilai organisasi tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Secara nasional, KOHATI memasuki usia 60 tahun pada September 2026. Sejumlah kegiatan peringatan tahun ini juga mengangkat tema “KOHATI Bernilai, Perempuan Berdaulat”, termasuk gerakan “September Bernilai” yang diluncurkan KOHATI PB HMI pada awal September 2026. Rangkaian tersebut diarahkan pada penguatan kapasitas kader, ruang diskusi, pemikiran, dan pengabdian sosial.
Baca Juga: Milad KAHMI ke-60 di Purwakarta Diwarnai Jalan Santai dan Gerakan Ngosrek
60 Tahun KOHATI Dimaknai sebagai Perjalanan Nilai
Sekretaris Umum KOHATI Cabang Purwakarta, Siti Julaekha, mengatakan usia 60 tahun tidak semata-mata berbicara mengenai perjalanan waktu. Menurutnya, enam dekade KOHATI merupakan perjalanan yang berkaitan dengan nilai, proses kaderisasi, serta kontribusi perempuan.
“Menurut saya, 60 tahun KOHATI bukan hanya tentang usia, tetapi tentang perjalanan, nilai, dan kontribusi. Enam dekade ini menjadi momentum untuk melihat kembali apa saja yang sudah dibangun oleh KOHATI, nilai-nilai apa yang diwariskan, dan bagaimana nilai tersebut tetap relevan dengan kebutuhan perempuan dan persoalan masyarakat hari ini,” ujar Siti.
Ia menilai tema “KOHATI Bernilai, Perempuan Berdaulat” memiliki makna penting dalam melihat posisi perempuan, terutama berkaitan dengan kemampuan untuk menentukan pilihan secara sadar dan bertanggung jawab.
Menurut Siti, perempuan berdaulat bukan hanya perempuan yang mampu mengambil keputusan bagi dirinya sendiri. Kedaulatan juga membutuhkan pengetahuan, kesadaran, kapasitas, tanggung jawab, serta keberanian.
“Perempuan berdaulat tidak hanya dimaknai sebagai perempuan yang mampu mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Tetapi juga perempuan yang memiliki pengetahuan, kesadaran, kapasitas, tanggung jawab, dan keberanian untuk menentukan pilihan hidupnya,” katanya.
“Jadi, kedaulatan perempuan menurut saya berkaitan dengan bagaimana perempuan memiliki kemampuan untuk memahami dirinya, menentukan pilihan, kemudian bertanggung jawab terhadap pilihan tersebut dan memberikan kontribusi di tengah masyarakat,” lanjut Siti.
Baca Juga: Vokal Soroti Kasus Aktivis KontraS, Ketua Badko HMI Jabar Siti Nurhayati Barsasmy Diteror OTK
KOHATI Diharapkan Menjadi Ruang Tumbuh Perempuan
Siti juga menyoroti pentingnya menyediakan ruang yang memungkinkan perempuan terus berkembang. Menurutnya, perempuan membutuhkan kesempatan untuk memperoleh pengetahuan, meningkatkan kapasitas, mempelajari kepemimpinan, serta membangun keberanian.
“Perempuan membutuhkan ruang untuk tumbuh. Ruang untuk mendapatkan pengetahuan, mengembangkan kapasitas, belajar kepemimpinan, dan membangun keberanian,” tuturnya.
Karena itu, ia berharap KOHATI dapat terus menjadi ruang pengembangan bagi kader perempuan. Perempuan, menurutnya, tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai objek, tetapi juga memiliki kesempatan menjadi subjek dalam kehidupan sosial.
Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah refleksi KOHATI dalam momentum usia 60 tahun. Tantangan perempuan saat ini tidak hanya berkaitan dengan satu bidang, tetapi juga menyentuh pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, teknologi, serta persoalan sosial yang terus berubah.
Tantangan Perempuan Semakin Kompleks
Pejabat Sementara Ketua Umum KOHATI Cabang Purwakarta, Irsadiyah Inggrid, mengatakan perjalanan enam dekade KOHATI harus menjadi momentum evaluasi, khususnya berkaitan dengan kaderisasi dan relevansi organisasi terhadap perkembangan zaman.
“Enam puluh tahun tentu merupakan perjalanan yang panjang. Karena itu, momentum ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga menjadi bahan evaluasi bagi KOHATI, terutama dalam proses kaderisasi dan relevansi organisasi terhadap perubahan zaman,” kata Irsadiyah.
Ia menegaskan, KOHATI tidak cukup hanya menjadi tempat aktivitas organisasi bagi HMI-Wati. Lebih dari itu, organisasi diharapkan menjadi ruang tumbuh yang memungkinkan kader mengembangkan pengetahuan, kapasitas, kepemimpinan, dan integritas.
“Menurut saya, KOHATI tidak cukup hanya menjadi ruang aktivitas organisasi bagi HMI-Wati. KOHATI harus menjadi ruang tumbuh bagi perempuan, tempat kader mengembangkan pengetahuan, kapasitas, kepemimpinan, dan integritas,” ujarnya.
Menurut Irsadiyah, tantangan perempuan pada masa kini semakin beragam. Persoalan pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, perkembangan teknologi hingga dinamika sosial membutuhkan kemampuan kader untuk membaca perubahan.
“Tantangan perempuan sekarang semakin kompleks. Ada persoalan pendidikan, ekonomi, kepemimpinan, perkembangan teknologi, sampai persoalan sosial yang terus berkembang,” katanya.
Karena itu, kader KOHATI dituntut mampu beradaptasi tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi dasar gerakan organisasi.
“Karena itu, kader KOHATI harus mampu membaca perubahan zaman. Tetapi di sisi lain, kemampuan beradaptasi tersebut tetap harus berangkat dari nilai-nilai yang menjadi dasar gerakan organisasi,” tutur Irsadiyah.
Kader Didorong Mengambil Peran di Masyarakat
Irsadiyah mengatakan, arah KOHATI ke depan diharapkan tidak berhenti pada aktivitas internal organisasi. Kader yang telah menjalani proses di KOHATI juga diharapkan mampu membawa nilai dan kapasitas yang diperoleh ke tengah masyarakat.
“Kita ingin KOHATI benar-benar menjadi ruang tumbuh bagi perempuan. Kader tidak hanya aktif di dalam organisasi, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengambil peran di masyarakat,” ucapnya.
“Jadi, setelah berproses di KOHATI, kader diharapkan mampu membawa nilai-nilai organisasi ke ruang pengabdian yang lebih luas, dengan kapasitas, integritas, dan keberanian,” sambung Irsadiyah.
Baca Juga: Rosalia Ananda Dukung Kegiatan Sosial KOHATI Purwakarta: Menebar Kepedulian untuk Anak Negeri
FORHATI Jadi Bagian dari Perjalanan Antargenerasi
Sementara itu, Dr. Hj. Nur Aisyah Jamil, M.Pd, dari FORHATI Kabupaten Purwakarta, melihat perjalanan KOHATI selama 60 tahun tidak dapat dilepaskan dari hubungan antargenerasi.
Menurutnya, KOHATI menjadi ruang pertumbuhan dan kaderisasi bagi HMI-Wati, sedangkan FORHATI menjadi salah satu ruang keberlanjutan pengalaman, gagasan, jejaring, dan pengabdian para alumni.
“Menurut saya, KOHATI dan FORHATI memiliki hubungan yang sangat erat. KOHATI menjadi ruang tumbuh dan proses kaderisasi bagi HMI-Wati, sementara FORHATI menjadi ruang keberlanjutan pengalaman, gagasan, jejaring, dan pengabdian para alumni,” kata Nur Aisyah.
Ia menilai perjalanan 60 tahun KOHATI juga dapat dimaknai sebagai perjalanan yang mempertemukan pengalaman generasi terdahulu dengan gagasan generasi kader saat ini.
“Karena itu, perjalanan 60 tahun KOHATI juga menjadi perjalanan antargenerasi. Ada pengalaman dari alumni yang bisa dibagikan kepada kader, dan ada energi serta gagasan baru dari kader yang bisa dikembangkan bersama,” ujarnya.
KOHATI dan FORHATI Diharapkan Perkuat Kolaborasi
Nur Aisyah berharap hubungan antara KOHATI dan FORHATI tidak berhenti pada kegiatan seremonial maupun silaturahmi. Menurutnya, terdapat berbagai bidang yang dapat menjadi ruang kolaborasi.
“Saya berharap hubungan KOHATI dan FORHATI tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau silaturahmi saja. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama, misalnya pengembangan kapasitas perempuan, pendidikan, pendampingan, penguatan jejaring, maupun kegiatan sosial yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar kader KOHATI menjadikan organisasi sebagai ruang untuk membangun kapasitas dan mempersiapkan diri menjalankan pengabdian.
“Kader KOHATI harus terus belajar, menjaga nilai, dan berani mengambil peran. Jangan melihat organisasi hanya sebagai tempat berkegiatan, tetapi sebagai ruang untuk membangun kapasitas dan mempersiapkan diri untuk memberikan pengabdian yang lebih luas,” katanya.
“Dan bagi kami di FORHATI, tentu ada tanggung jawab untuk terus mendampingi dan membuka ruang kolaborasi dengan generasi kader berikutnya,” lanjut Nur Aisyah.
Baca Juga: KOHATI Purwakarta Gelar Bakti Sosial Milad ke 59: Menebar Kepedulian untuk Anak Negeri
60 Tahun KOHATI Menjadi Momentum Menatap Masa Depan
Peringatan Dies Natalis KOHATI ke-60 di Purwakarta pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai sejarah organisasi. Tiga narasumber menempatkan momentum tersebut sebagai refleksi mengenai bagaimana perempuan dapat terus bertumbuh, memiliki kapasitas, serta mengambil peran di tengah masyarakat.
KOHATI sendiri didirikan pada 17 September 1966 dalam Kongres VIII HMI di Solo. Dengan demikian, tahun 2026 menjadi penanda enam dekade perjalanan organisasi tersebut.
Memasuki usia tersebut, isu mengenai relevansi organisasi dan penguatan kapasitas kader menjadi bagian dari pembahasan KOHATI di berbagai daerah. Sejumlah peringatan Milad KOHATI ke-60 pada September 2026 juga mengangkat ruang refleksi, kepemimpinan perempuan, kontribusi sosial, serta tantangan perempuan di tengah perubahan teknologi dan masyarakat.
Bagi KOHATI Cabang Purwakarta, tema “KOHATI Bernilai, Perempuan Berdaulat” menjadi pijakan untuk melihat perjalanan yang telah dilalui sekaligus mempersiapkan kader menghadapi tantangan berikutnya.
Ketika diminta merangkum makna 60 tahun KOHATI dalam satu kalimat, Siti Julaekha menyampaikan:
“60 tahun KOHATI adalah perjalanan nilai yang harus terus dihidupkan agar perempuan memiliki pengetahuan, kapasitas, dan keberanian untuk berdaulat.”
Irsadiyah Inggrid menambahkan:
“60 tahun KOHATI harus menjadi pijakan untuk terus menjadikan organisasi sebagai ruang tumbuh perempuan yang mampu menjawab tantangan zaman.”
Sementara Nur Aisyah Jamil menegaskan pentingnya menjaga hubungan antargenerasi:
“60 tahun KOHATI adalah perjalanan antargenerasi yang harus terus dirawat melalui silaturahmi, kolaborasi, dan pengabdian.”
Dengan demikian, Dies Natalis KOHATI ke-60 di Purwakarta menjadi momentum untuk memperkuat proses belajar, kaderisasi, kolaborasi dan pengabdian. Nilai organisasi diharapkan tidak hanya berhenti dalam ruang kegiatan, tetapi juga dibawa oleh kader ke berbagai ruang kehidupan masyarakat. (Red)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Milad KAHMI ke-60 di Purwakarta Diwarnai Jalan Santai dan Gerakan Ngosrek
- 2Bermodal Prestasi di Hangzhou, Timnas PUBG MOBILE Indonesia Kejar Medali di Asian Games 2026
- 3KOHATI Purwakarta Peringati Dies Natalis ke-60, Tegaskan Perempuan Harus Bernilai dan Berdaulat
- 4Bermodal Prestasi di Hangzhou, Timnas PUBG MOBILE Indonesia Kejar Medali di Asian Games 2026
- 5DPRD Jabar Dorong Investasi Tetap Jaga Pohon dan Ruang Terbuka Hijau









