Jabar

Guncang Pasar Modal, Investor Alihkan Dana ke Aset Aman Imbas Konflik Panas Antara Iran dan Israel

| 10 Juli 2025, 15:36 WIB
Guncang Pasar Modal, Investor Alihkan Dana ke Aset Aman Imbas Konflik Panas Antara Iran dan Israel

AKURAT JABAR – Ketegangan geopolitik yang terjadi antara Israel dan Iran telah menyumbang dampak secara signifikan terhadap pergerakan pasar modal global, termasuk di Indonesia.

Para investor cenderung menghindari risiko akibat ketidakpastian, dengan mengalihkan investasinya ke instrumen yang lebih aman seperti emas dan obligasi pemerintah.

Seperti kita ketahui, lonjakan harga emas pada perang pertama antara Rusia dan Ukraina merupakan fakta nyata bagaimana para investor mencari perlindungan.

Baca Juga: Konflik Israel dan Iran Berakhir Gencatan Senjata, Dunia Berharap Harga Minyak Tak Meroket

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Jawa Barat Achmad Dirgantara, mengungkapkan bahwa kondisi tersebut memicu aksi jual di pasar saham.

Langkah ini berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatnya volatilitas pasar. Selain itu, konflik bersenjata juga berkontribusi terhadap fluktuasi harga komoditas global seperti minyak, gas, dan pangan.

“Salah satu dampak langsung dari perang adalah fluktuasi harga komoditas global, khususnya minyak, gas, dan pangan," ujar Achmad, Senin (7/7/2025).

"Misalnya, Rusia dan Ukraina merupakan eksportir gandum terbesar dunia. Konflik di wilayah tersebut sempat memicu lonjakan harga gandum global hingga puluhan persen. Kenaikan harga pangan dan energi kemudian mendorong inflasi di banyak negara,” sambungnya.

Baca Juga: Konflik Iran-Israel Meningkat, Menlu RI Harapkan Ketegangan Segera Selesai Agar Cegah Situasi Memburuk

Menurutnya, sektor energi dalam negeri—terutama batu bara dan minyak—berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga komoditas. Sebaliknya, sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor justru berisiko mengalami tekanan margin karena kenaikan biaya produksi.

“Saat konflik geopolitik meletus, investor global cenderung memilih mata uang yang lebih stabil seperti dolar AS. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, sering kali tertekan. Depresiasi rupiah akan meningkatkan biaya impor, menaikkan beban utang perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar, dan berpotensi menekan laba bersih emiten,” ujarnya.

Pelemahan rupiah sendiri akan memberikan keuntungan terhadap emiten yang memiliki orientasi ekspor, salah satunya adalah perusahaan sawit dan nikel. Melemahnya nilai rupiah tersebut akan berdampak pada peningkatan pendapatan mereka dalam dolar.

Baca Juga: Trump Ancam Indonesia dengan Tarif 32 Persen, Tantangan Besar di Sektor Perdagangan

Meski demikian, Achmad mengingatkan bahwa dalam beberapa sektor masih rentan terkena dampak. Resiko terhadap tekanan keuangan imbas naiknya biaya bahan bakar dan potensi terhadap meningkatnya kredit bermasalah juga terjadi di sektor industri manufaktur berbasis impor, transportasi dan logistik, serta pada sektor perbankan.

“Sektor yang diuntungkan adalah energi dan batu bara berkat harga komoditas global yang naik karena permintaan tinggi. Selain itu, perkebunan (CPO, karet) juga mendapat tambahan pendapatan ekspor," ucapnya.

"Lalu, logam dan mineral (nikel, tembaga) medapatkan dukungan permintaan global, khususnya terkait energi baru terbarukan,” sambung Achmad.

Fokus pada fundamental perusahaan menjadi hal yang sangat penting daripada hanya terjebak pada sentimen sesaat. Perusahaan yang memiliki manajemen solid, model bisnis kuat, serta memiliki rekam jejak kinerja yang baik biasanya dapat bertahan dan bahkan berkembang di tengah gejolak yang ada.

Baca Juga: BRICS Ancam Balik Presiden Trump Imbas Tarif Tambahan 10 Persen, Tegaskan Kedaulatan Ekonomi Global

Strategi Investasi Cerdas di Tengah Terjadinya Ketidakpastian Pasar

  1. Diversifikasi portofolio melalui cara dengan tidak menaruh seluruh dana pada satu sektor saja atau satu jenis aset saja. Dengan diversifikasi tersebut akan membantu dalam meminimalkan risiko.
  2. Perhatikan valuasi. Ketika harga saham turun, disarankan untuk tidak tergoda. Hal yang perlu dilakukan adalah dengan memastikan valuasi masih menarik secara fundamental.
  3. Tetap berpegang pada rencana keuangan. Terjadinya konflik global semestinya tidak mengubah tujuan investasi dalam jangka panjang. Apabila tujuan investasinya adalah pensiun dalam jangka waktu 20 tahun, maka sebaiknya tidak mengganggu volatilitas jangka pendek.
  4. Kombinasikan dengan instrumen defensif, salah satunya dengan obligasi pemerintah atau reksa dana pasar uang yang dalam hal ini dapat dijadikan penyeimbang portofolio di tengah pasar saham sedang bergejolak.
  5. Pantau sejumlah sektor yang resilient. Dalam situasi krisis, sektor consumer staples, kesehatan, serta energi umumnya lebih stabil. 

Baca Juga: Trump Ancam Tarif Tambahan Terhadap Sejumlah Negara Pendukung BRICS, Disinyalir Dukung Kebijakan Anti Amerika

Perang yang meletus pada Februari 2022 antara Rusia dan Ukraina menjadi salah satu contoh nyata. Saat itu, harga minyak Brent melambung tinggi hingga di atas USD120 per barel, harga emas pun melonjak, dan bursa saham global juga melemah signifikan.

Namun, jelang beberapa bulan kemudian, terjadi penyesuaian pada pasar. Di sisi lain, harga komoditas yang melambung menjadi keuntungan bagi Indonesia sebagai negara eksportir.

Terjadinya konflik geopolitik memang membawa risiko yang sangat besar, namun juga memberikan peluang terhadap investor yang siap. Pemahaman yang mendalam terhadap faktor makroekonomi, arus modal, harga komoditas dan pergerakan nilai tukar menjadi kunci terhadap pengambilan keputusan secara lebih bijak.

Baca Juga: Indonesia Terhimpit Perang Dagang Trump? Ini 11 Fakta dan Langkah Strategis Prabowo

“Pasar modal selalu bergerak mengikuti dinamika global. Bagi investor ritel, hal terpenting adalah disiplin, edukasi yang berkelanjutan, serta kemampuan mengelola emosi," ucapnya.

"Dengan demikian, investor bisa tetap tenang di tengah badai, sekaligus memanfaatkan momentum untuk meraih hasil optimal dalam jangka Panjang,” tandas Kakanwil BEI Jabar, Achmad Dirgantara.

Baca Juga: Hadapi Tekanan Ekonomi Global, Gubernur Jabar Siapkan Insentif Industri

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.