Pemprov Jabar dan OJK Sinergi Kembangkan Sapi Perah untuk Dongkrak Ekonomi Daerah, Targetkan Jadi Produsen Susu Terbesar Nasional

AKURAT JABAR - Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat tengah menargetkan peringkat pertama dalam memproduksi susu secara nasional di dua tahun mendatang.
Untuk itu, Pemprov Jabar bersama Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Jawa Barat memperkuat sinergitas dalam upaya pengembangan sapi perah untuk mendobrak perekonomian daerah.
Hal tersebut diungkapkan oleh Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman dalam kegiatan Sarasehan dan Penandatanganan Nota Kesepahaman Bersama Implementasi Pengembangan Peternak Sapi Perah di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada Kamis (11/9/2025).
Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya Pemprov Jabar bersama OJK Jabar dalam mewujudkan peningkatan potensi ekonomi daerah melalui pengembangan produktivitas sapi perah.
Acara inipun melibatkan banyak unsur, termasuk Pemprov Jabar, Industri Jasa Keuangan (IJK), serta Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat.
Dalam kesempatannya, Sekda Herman menyambut baik rencana strategis tersebut. Menurutnya, hal tersebut sejalan dengan Rencana Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Barat 2024–2029.
"Pengembangan peternakan sapi perah merupakan bagian penting dari strategi ketahanan pangan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat,” ungkapnya.
Sementara, Kepala OJK Provinsi Jawa Barat Darwisman menjelaskan, bahwa penguatan sinergitas tersebut diharapkan dapat mengakselerasi terhadap penyaluran kredit perbankan ke subsektor peternakan, khususnya sapi perah.
“Potensi penyaluran kredit perbankan ke subsektor peternakan, khususnya sapi perah, mencapai Rp1 triliun. Dengan kerja sama ini, kami berharap penyaluran kredit perbankan kepada peternak sapi perah dapat meningkat dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian," ucapnya.
Baca Juga: Purwakarta Gelar Pelatihan Hygiene Sanitasi, Sukseskan Program Makan Bergizi Gratis
"OJK terus mendorong kontribusi sektor keuangan terhadap perekonomian Jawa Barat maupun nasional,” sambung Darwisman.
Ia juga menyebut bahwa saat ini, terdapat kekosongan kandang anggota GKSI Jawa Barat untuk 21.550 ekor sapi perah. Hal itu disebabkan oleh wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) pada tahun 2022.
Sedikitnya dibutuhkan suntikan anggaran sebesar Rp967,75 miliar untuk memenuhi kembali kebutuhan tersebut. Untuk harga sapi perah indukan lokal sendiri mencapai harga Rp25 juta per ekor, sedangkan harga sapi perah impor dari Australia mencapai angka Rp45 juta per ekor.
Baca Juga: Kopdes Merah Putih: Simbol Kemandirian Ekonomi Desa
Terkait kuota impor sapi perah yang telah ditetapkan oleh pemerintah adalah sebanyak 3.500 ekor pada tahun 2025, dengan dana yang dibutuhkan mencapai angka sebesar Rp157,5 miliar.
Adapun perbankan yang terlibat dalam program tersebut yakni PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk serta PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk.
Per Juni 2025, data Statistik Perbankan Indonesia telah mencatat sebesar Rp230,94 miliar penyaluran kredit subsektor pembibitan serta budidaya ternak perah di Provinsi Jawa Barat. Angka ini naik sebesar 2,62 persen jika dibandingkan pada Juni 2024.
Angka tersebut baru mencapai 1,07 persen dari total kredit di sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar Rp21,63 triliun. Jika kerja sama ini terealisasi, maka penyaluran kredit subsektor sapi perah diproyeksikan dapat mencapai Rp1,19 triliun atau 5,5 persen dari total kredit di sektor pertanian.
Untuk diketahui, bahwa jumlah sapi perah di Jawa Barat tahun 2025 tercatat sekitar 14 ribu ekor, jumlah ini turun dari yang awalnya sebanyak 30 ribu ekor pada tahun sebelumnya.
Menurunnya populasi tersebut berdampak pada produksi susu yang hanya mencapai 239 ribu ton per tahun, lebih rendah jika dibandingkan dengan kebutuhan konsumsi masyarakat di Jawa Barat yang mencapai 336 ribu ton per tahun.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Pemprov Jabar tengah merancang strategi pengembangan peternakan sapi perah yang meliputi penyediaan bibit, pakan, pengelolaan limbah, dan pemasaran.
Upaya tersebut turut diperkuat oleh program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan mampu mendorong peningkatan permintaan susu lokal.
Langkah tersebut sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah yang menekankan pembangunan dari desa dan dari akar rumput, demi mendorong pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan di Jawa Barat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kawasan HWB Purwakarta Dikembangkan, Target Tampung Lebih dari 30.000 Penduduk
- 2Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, PB HMI Imbau Waspadai Narasi Liar di Medsos
- 3Sambut HUT Ke-81 Korps Brimob Polri, Batalyon B Pelopor Gelar Anjangsana ke Kediaman Warakawuri
- 4Sambut HUT Ke-81 Korps Brimob Polri, Batalyon B Pelopor Gelar Anjangsana ke Kediaman Warakawuri
- 5Penggeledahan Pesantren di Sukoharjo, PB HMI Imbau Waspadai Narasi Liar di Medsos




