Jabar

Tegas Dedi Mulyadi Sebut Berseragam atau Tidak, Preman Tetaplah Preman Ini Dampaknya pada Keamanan Publik

| 5 April 2025, 19:00 WIB
Tegas  Dedi Mulyadi Sebut Berseragam atau Tidak, Preman Tetaplah Preman Ini Dampaknya pada Keamanan Publik

 

AKURAT JABAR - Pernyataan Dedi Mulyadi yang Mengguncang PublikBaru-baru ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, melontarkan pernyataan yang langsung mengundang respons tajam dari berbagai pihak.

Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Minta Pengelola Wisata Lakukan Persiapan Matang Hadapi Libur Lebaran 2025

Dalam sebuah kesempatan, Dedi menyampaikan, "Berseragam atau tidak, preman tetaplah preman." Ungkapan ini menjadi viral dan memantik diskusi luas seputar perilaku aparat, ketegasan hukum, dan wajah premanisme modern di Indonesia.

Baca Juga: Festival Dulag Istimewa dan Jadwal Salat Idulfitri Gubernur Jabar Dedi Mulyadi

Apa yang Dimaksud Preman Berseragam?

1. Premanisme Gaya Baru

Premanisme kini tak lagi selalu diasosiasikan dengan penampilan lusuh dan tindakan kriminal terang-terangan. Dalam konteks saat ini, preman bisa berseragam, memiliki kekuasaan, dan bahkan wewenang yang sah namun disalahgunakan.

2. Oknum dan Penyalahgunaan Kewenangan

Pernyataan Dedi Mulyadi menyentil secara langsung adanya oknum berseragam yang memanfaatkan posisi mereka untuk bertindak semena-mena, memalak, atau menciptakan ketakutan di masyarakat.

Baca Juga: SEMMI Jabar Minta Proyek Wisata Eiger Camp Segera Ditindak Tegas Gubernur Dedi Mulyadi

Reaksi Publik dan Media Sosial

Ungkapan Dedi langsung trending di media sosial. Banyak netizen menyatakan dukungan, menganggap Dedi berani membuka suara tentang fenomena oknum berseragam.

Baca Juga: Waspada Konten Hoax mengatasnamakan Gubernur Dedi Mulyadi

Menangani Premanisme Sistemik

1. Transparansi dan Reformasi Kelembagaan

Reformasi institusi penegak hukum harus berjalan beriringan dengan transparansi publik untuk mencegah munculnya preman berbaju seragam.

2. Pengawasan Independen

Perlu dibentuk lembaga pengawas independen untuk menindak penyalahgunaan wewenang agar tidak ada lagi ruang untuk oknum preman berseragam.

Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Pastikan Stok Pupuk untuk di Jabar Aman

Edukasi Masyarakat: Mengenal Hak dan Prosedur

Salah satu cara mengurangi ketakutan publik terhadap oknum adalah dengan edukasi hukum. Masyarakat perlu tahu prosedur penangkapan, penggeledahan, hingga cara melapor tindakan sewenang-wenang.

FAQ Seputar Preman Berseragam dan Pernyataan Dedi Mulyadi

1. Apa yang dimaksud Dedi Mulyadi dengan preman berseragam?

Ia merujuk pada pihak yang menyalahgunakan wewenangnya meski memiliki atribut resmi, sehingga tindakan mereka mirip preman.

2. Apakah pernyataan ini ditujukan untuk institusi tertentu?

Tidak secara eksplisit, namun publik mengaitkan pernyataan ini dengan perilaku oknum aparat di lapangan.

 

4. Apa reaksi pemerintah atau institusi terkait?

Belum ada reaksi resmi, namun media dan publik ramai menanggapi pernyataan ini.

5. Bagaimana seharusnya masyarakat merespons pernyataan ini?

Dengan bijak. Ambil sisi positifnya sebagai dorongan untuk reformasi kelembagaan, bukan memicu kebencian.

Baca Juga: Tolak Parsel Lebaran Untuk Dirinya, Dedi Mulyadi Minta Alihkan Pemberian Kepada Warga Kurang Mampu

Pernyataan Dedi Mulyadi mengenai “preman berseragam” bukan hanya retorika, tapi panggilan untuk perubahan. Ini membuka diskusi serius tentang siapa yang berkuasa, bagaimana kekuasaan digunakan, dan siapa yang melindungi rakyat. Bila disikapi dengan benar, ini bisa jadi momentum untuk memperkuat keadilan dan reformasi di tubuh lembaga-lembaga penegak hukum kita.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.