Jabar

Angka Depresi di Jabar Tinggi, Pemprov Jabar Dorong Penempatan Psikolog Klinis di Seluruh Puskesmas

| 11 Mei 2025, 13:11 WIB
Angka Depresi di Jabar Tinggi, Pemprov Jabar Dorong Penempatan Psikolog Klinis di Seluruh Puskesmas

AKURAT JABAR - Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat tengah menyiapkan layanan psikolog klinis di setiap Puskesmas dalam upaya mengatasi tingginya prevalensi gangguan kesehatan jiwa di masyarakat.

Dalam rangka mendeteksi kesehatan jiwa masyarakat, maka penting adanya psikolog klinis di setiap Puskesmas yang ada di Jawa Barat sebagai bentuk pelayanan di tingkat primer.

Hal ini disampaikan langsung Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan saat memberikan sambutannya di acara Sosialisasi Peran Psikolog Klinis dalam Penguatan Pelayanan Kesehatan Jiwa di Puskesmas Se-Jawa Barat. 

Baca Juga: Gelar Uji Kompetensi untuk Isi Jabatan Pimpinan Tinggi, Pemprov Jabar: Perkuat Birokrasi dan Pelayanan Publik

Acara tersebut digelar di Gedung Sate, Kota Bandung, pada hari Jumat (9/5/2025). Erwan juga menyebut bahwa layanan psikologi klinis yang profesional di tingkat primer dapat membantu menurunkan beban rumah sakit jiwa dan rumah sakit rujukan.

"Psikolog klinis ialah lembaga kesehatan esensial di Puskesmas yang berperan dalam pencegahan, mendeteksi dini, intervensi dan rehabilitasi masalah kesehatan jiwa," ungkapnya.

Untuk itu, Pemprov Jabar dalam hal ini berkomitmen untuk selalu mendorong pemerataan layanan psikolog klinis di seluruh Puskesmas yang ada di Jawa Barat.

Baca Juga: Kolaborasi Jabar-Jateng, Siap Optimalkan Pembangunan di Daerah Perbatasan

"Saya berharap paling tidak tahun depan 300-500 Puskesmas sudah memiliki psikolog klinis dan ke depan bisa merata di 1.000 lebih Puskesmas di seluruh Jabar," jelas Erwan.

Erwan juga mewanti-wanti terkait kesiapan SDM, yang menjadi kunci utama dalam pelaksanaan program tersebut. Untuk itu ia meminta semua pihak untuk merencanakan program tersebut secara matang agar sesuai harapan.

"Jangan sampai kita sudah sosialisasi, tapi psikolognya tidak ada. Segala sesuatu harus disiapkan secara matang dan ada aksi nyata, bukan hanya rapat-rapat tanpa implementasi," tegasnya.

Baca Juga: Meski Tuai Kritikan, Dedi Mulyadi Tambah Program Untuk Pemuda Dewasa Buat Resah Ikut Pendidikan di Barak Militer

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, Provinsi Jawa Barat memiliki prevalensi depresi tertinggi di Indonesia, berkisar 3,3 persen berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) terakhir.

Ia berpandangan bahwa dengan tingginya angka prevalensi depresi di Jawa Barat tentu menjadi tanda, bahkan menjadi alarm bagi semua pihak.

"Jawa Barat harus bertransformasi dari provinsi dengan tingkat depresi tertinggi menjadi provinsi paling bahagia. Maka layanan kesehatan jiwa berbasis masyarakat harus segera diakselerasi," ujarnya.

Baca Juga: Masuk Barak Militer, 274 Siswa SMA/SMK di Jabar Jalani Pendidikan Karakter Pancawaluya

Herman sendiri melihat fenomena ini, salah satu faktornya adalah terkait dengan adanya tekanan ekonomi, yang menjadi pemicu utama tingkat depresi masyarakat.

“Ada 96.000 kasus perceraian di Jabar, 90.000 di antaranya adalah gugatan dari perempuan. Ini menunjukkan ketahanan keluarga kita rentan,” imbuhnya.

Herman juga melihat tingginya masyarakat yang melakukan pinjaman online, bahkan sampai pada level judi online di kalangan anak-anak. Ia juga menekankan pentingnya penanganan yang promotif dan preventif, tidak sebatas bersifat kuratif saja.

Baca Juga: Ketua Umum SEMMI Jabar Soroti Dugaan Korupsi dan Potensi Kerugian Negara Akibat Ulah Oknum PJT II di Sepanjang Jalur Kalimalang

“Kita butuh penataan kelembagaan dan SDM. Puskesmas bisa mulai melakukan pelayanan meski belum sempurna. Sambil berjalan kita terus sempurnakan. Jangan menunggu sempurna baru jalan,” ucapnya.

Herman dalam hal ini juga meminta pemerintah pusat untuk mendukung agar formasi psikolog klinis dapat difasilitasi, terutama bagi Puskesmas yang telah berbadan layanan umum daerah (BLUD) dan memiliki kemandirian fiskal.

“Tujuan utama kita bukan hanya menambah formasi, tapi meningkatkan derajat kesehatan jiwa masyarakat secara konkret,” ujarnya.

Baca Juga: Mendagri Apresiasi Kinerja Gubernur Dedi Mulyadi, Mampu Kelola APBD Jawa Barat Dengan Optimal

“Tidak perlu panjang prosesnya, kalau perlu langsung action. Yang penting niatnya demi kesehatan jiwa masyarakat Jabar,” pungkas Herman menutup sambutannya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.