Waspada Influenza A di Bandung, Farhan Minta Orang Tua Tak Paksa Anak Masuk Sekolah

AKURAT JABAR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung meningkatkan kewaspadaan terhadap Influenza A Bandung menyusul meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kasus flu yang belakangan populer disebut sebagai “super flu”.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan meminta masyarakat tidak menganggap remeh gejala influenza. Ia secara khusus mengingatkan orang tua agar tidak memaksakan anak yang mulai mengalami gejala flu untuk tetap mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Farhan menyampaikan imbauan tersebut di Balai Kota Bandung, Selasa, 22 September 2026. Menurutnya, kewaspadaan perlu dilakukan bersama oleh pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat.
Meski demikian, Farhan menekankan bahwa peningkatan kewaspadaan tidak berarti masyarakat harus panik.
“Super flu di Kota Bandung ini ada beberapa. Bahkan kalau melihat di rumah sakit beberapa memang sudah kita lakukan isolasi. Beberapa kasus di luar Kota Bandung,” kata Farhan di Balai Kota Bandung, Selasa 22 September 2026.
Pemkot Bandung Tingkatkan Kewaspadaan di Fasilitas Kesehatan
Farhan menjelaskan bahwa sejumlah kasus influenza telah mendapat penanganan di fasilitas kesehatan. Beberapa pasien bahkan menjalani isolasi di rumah sakit.
Namun, ia membedakan langkah kewaspadaan saat ini dengan kondisi pandemi Covid-19. Menurutnya, peningkatan kesiapsiagaan terutama diarahkan kepada rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan.
“Untuk fasilitas kesehatan kita hidupkan kembali kewaspadaan seperti kita menghadapi Covid, tapi levelnya level rumah sakit atau fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan langkah pemerintah dalam memperkuat pemantauan penyakit pernapasan melalui sistem surveilans.
Kementerian Kesehatan dalam laporan pengawasan hingga minggu epidemiologi ke-37 tahun 2026 menyebut pemantauan influenza dan Covid-19 dilakukan melalui fasilitas sentinel, yang terdiri dari puskesmas, rumah sakit, dan balai karantina kesehatan.
Dalam laporan yang diperbarui 19 September 2026 itu, aktivitas influenza secara nasional masih berada dalam kategori rendah. Namun, proporsi positif influenza pada minggu ke-36 meningkat menjadi 46 persen dari 35 persen pada minggu sebelumnya.
Baca Juga: Waspada Hantavirus! Kenali Penyebab, Gejala hingga Cara Penanganannya Sebelum Terlambat
Orang Tua Diminta Tidak Memaksakan Anak Sekolah
Salah satu perhatian Farhan adalah potensi penularan influenza di lingkungan sekolah. Ia meminta orang tua memberikan perhatian lebih ketika anak mulai mengalami keluhan yang menyerupai flu.
Farhan menyebut beberapa gejala yang perlu diperhatikan, antara lain demam tinggi selama beberapa hari, kehilangan kemampuan mencium atau anosmia, penurunan kemampuan mengecap rasa, serta batuk yang berat dan berlangsung cukup lama.
“Kalau anak-anak mengalami flu, sebaiknya tidak sekolah dulu pastikan ke dokter dulu karena gejalanya ternyata persis seperti Covid,” ungkapnya.
Menurut Farhan, keputusan untuk tidak memaksakan anak bersekolah saat mengalami gejala pernapasan merupakan bagian dari upaya mengurangi risiko penularan.
Ia mengingatkan bahwa lingkungan sekolah mempertemukan banyak anak dalam satu tempat. Karena itu, anak yang sedang mengalami gejala flu sebaiknya mendapatkan pemeriksaan dan beristirahat terlebih dahulu.
“Kalau anak terlihat mulai mengalami gejala flu, jangan dipaksakan sekolah. Karena biasanya penyebaran seperti belajar dari masalah Covid terjadi ketika ada perkumpulan,” ucapnya.
Imbauan tersebut juga telah dimuat dalam pemberitaan resmi Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Portal Jabar melaporkan bahwa Farhan meminta orang tua tidak memaksa anak dengan gejala influenza mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Instruksikan Dinkes Jabar Siaga Hantavirus, Respons Cepat Jadi Kunci Pencegahan
Data Kasus Meningkat, tetapi Belum Dianggap Signifikan
Di tengah meningkatnya perhatian masyarakat, Farhan mengatakan data Dinas Kesehatan Kota Bandung memang menunjukkan adanya kenaikan kasus. Namun, menurut laporan yang diterimanya, peningkatan tersebut belum berada pada tingkat yang dianggap sangat signifikan.
Ia juga menilai tingginya perhatian masyarakat melalui media sosial dapat memengaruhi jumlah kunjungan ke fasilitas pelayanan kesehatan.
“Laporan dari Dinkes, ada peningkatan tapi ternyata datanya juga tidak terlalu signifikan. Tapi di media sosial ramai sampai IGD pun penuh,” kata Farhan.
Karena itu, Farhan meminta masyarakat tetap waspada tanpa berlebihan dalam merespons informasi yang beredar.
“Flu sedikit juga karena ada super flu jadi wajarlah. Bagus kewaspadaan,” ungkapnya.
Istilah “Super Flu” Perlu Dipahami secara Tepat
Istilah “super flu” yang banyak digunakan di masyarakat merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K dalam sejumlah pemberitaan. Secara medis, istilah tersebut bukan nama resmi penyakit baru.
Kementerian Kesehatan sebelumnya menjelaskan bahwa A(H3N2) merupakan bagian dari influenza musiman. Kemenkes juga pernah melaporkan bahwa subclade K telah terdeteksi di Indonesia dan menerbitkan surat edaran khusus mengenai penanggulangan Influenza A(H3N2) subclade K.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa subclade K merupakan kelompok virus influenza musiman A(H3N2) yang berkembang dari subclade J.2.4. Virus tersebut menunjukkan sejumlah perubahan genetik dan telah ditemukan di berbagai wilayah.
Dengan demikian, penyebutan “super flu” sebaiknya tidak dimaknai sebagai munculnya virus influenza baru yang terpisah dari influenza musiman.
Baca Juga: Dinkes Jabar Dorong Pelaksanaan Imunisasi Campak ORI untuk Cegah Penyebaran
Aktivitas Influenza Nasional Masih dalam Kategori Rendah
Data terbaru Kementerian Kesehatan memberikan konteks penting terhadap situasi Influenza A Bandung.
Dalam laporan minggu epidemiologi ke-37, Kemenkes menyatakan tingkat aktivitas influenza di Indonesia masih berada pada kategori rendah. Pada minggu ke-36, dari 185 spesimen yang diperiksa, terdapat 86 hasil positif influenza. Rinciannya terdiri dari delapan influenza A(H3N2), 76 influenza A(H1N1)pdm09, dan dua influenza B Victoria.
Kemenkes juga mencatat proporsi kasus influenza yang terdeteksi pada kelompok usia 0–4 tahun mencapai 42 persen pada minggu tersebut. Data ini menjadi salah satu alasan pentingnya perhatian terhadap gejala influenza pada anak.
Namun, data nasional tersebut tidak dapat langsung disamakan dengan kondisi Kota Bandung karena cakupan wilayah dan metode pengumpulan datanya berbeda.
Pemkot Pastikan Pasien Tetap Mendapat Pelayanan
Selain meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, Farhan memastikan fasilitas kesehatan di Kota Bandung tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Ia secara khusus meminta tidak ada pasien yang ditolak ketika membutuhkan pertolongan medis.
“Saya akan memastikan bahwa tidak ada satu pun fasilitas kesehatan yang menolak pasien. Terima dulu, tangani, baru tanyakan tentang BPJS-nya,” jelas Farhan.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga melaporkan bahwa fasilitas kesehatan Kota Bandung telah menangani sejumlah pasien Influenza A, termasuk pasien yang menjalani isolasi di rumah sakit.
Kebijakan tersebut menempatkan pelayanan medis sebagai prioritas ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Baca Juga: Jadi Rujukan Regional, RSUD Kota Bandung 2026 Pastikan Layanan Kesehatan Tanpa Sekat Ekonomi
Farhan Sarankan Vaksinasi Influenza
Selain menjaga kewaspadaan dan memperhatikan gejala, Farhan menyarankan masyarakat yang masih sehat untuk mempertimbangkan vaksinasi influenza.
“Untuk yang masih sehat, saya sarankan untuk segera suntik vaksin flu,” tuturnya.
Vaksinasi influenza juga menjadi bagian dari strategi pencegahan influenza musiman. CDC, misalnya, mencatat vaksin influenza tersedia untuk kelompok usia mulai enam bulan pada musim influenza 2026–2027 di Amerika Serikat. Komposisi vaksinnya juga diperbarui untuk memberikan perlindungan terhadap virus yang diperkirakan beredar.
Sementara itu, WHO menyatakan komposisi vaksin influenza diperbarui secara berkala berdasarkan pemantauan virus yang beredar melalui jaringan surveilans global.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Bandung tidak perlu mengabaikan gejala flu, tetapi juga tidak perlu menyikapinya dengan kepanikan. Langkah yang lebih penting adalah memperhatikan kondisi tubuh, menjaga kebersihan, membatasi aktivitas ketika sedang sakit, serta mencari pertolongan medis apabila gejala membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Pemkot Bandung sendiri terus meningkatkan kewaspadaan di fasilitas kesehatan. Di sisi lain, orang tua diminta lebih peka terhadap kondisi anak agar gejala penyakit pernapasan tidak diabaikan dan potensi penularan di lingkungan sekolah dapat diminimalkan.***
Baca Juga: Dinkes Jabar Catat 10 Kasus Influenza, Balita dan Dewasa Paling Banyak Terdampak
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1FiberStar Perluas Solusi Digital untuk Industri dan Bisnis di Jawa Barat
- 2MK Hapus Presidential Threshold, DPR Diminta Siapkan Aturan Pencalonan Pilpres 2029
- 3Belum Terdaftar Bansos? Ini Cara Mengusulkan Diri melalui Aplikasi Cek Bansos
- 4Cuaca Ekstrem Tak Halangi Panen Raya Semangka di Nagara Kalsel
- 5Dinkes Jabar Catat 10 Kasus Influenza, Balita dan Dewasa Paling Banyak Terdampak
- 6Waspada Influenza A di Bandung, Farhan Minta Orang Tua Tak Paksa Anak Masuk Sekolah
- 7DPRD Jabar Dorong Investasi Tetap Jaga Pohon dan Ruang Terbuka Hijau
- 8Kabel Lampu Lalu Lintas Dicuri di Bandung, Farhan Gandeng Polisi Buru Pelaku
- 9DPRD Jabar Dorong Investasi Tetap Jaga Pohon dan Ruang Terbuka Hijau
- 10Polda Jabar Perkuat Pengamanan FIFA ASEAN Cup 2026









