Dinkes Jabar Catat 10 Kasus Influenza, Balita dan Dewasa Paling Banyak Terdampak

AKURAT JABAR – Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat mencatat 10 kasus influenza Jabar yang terkonfirmasi hingga minggu ke-36 tahun 2026.
Dari jumlah tersebut, sebanyak sembilan kasus merupakan Influenza A, sedangkan satu kasus lainnya teridentifikasi sebagai Influenza B.
Pemantauan tersebut dilakukan melalui sistem surveilans influenza yang berjalan di fasilitas kesehatan sentinel. Di Jawa Barat, pemantauan dilakukan melalui Sentinel Influenza-Like Illness (ILI) di Puskesmas Padasuka, Kota Bandung, serta Sentinel Severe Acute Respiratory Infection (SARI) di RSUP Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jabar, dr. Selvia Kusdwiyanti, mengatakan peningkatan kasus influenza mulai terlihat sejak Agustus 2026.
"Sembilan yang influenza A dan satu influenza B," ujar Selvia, Selasa 22 September 2026.
Temuan tersebut juga mendapat perhatian karena kasus influenza tidak hanya dipantau berdasarkan jumlah pasien yang mengalami gejala, tetapi melalui pemeriksaan laboratorium untuk memastikan jenis virus yang menyebabkan infeksi.
Baca Juga: Dinkes Jabar Dorong Pelaksanaan Imunisasi Campak ORI untuk Cegah Penyebaran
Surveilans Influenza Dilakukan melalui ILI dan SARI
Selvia menjelaskan, Dinkes Jabar menggunakan dua jalur surveilans untuk memantau perkembangan influenza.
Surveilans ILI berfungsi mengamati pasien rawat jalan yang mengalami gejala menyerupai influenza. Sementara itu, surveilans SARI digunakan untuk memantau pasien yang mengalami infeksi saluran pernapasan akut berat dan membutuhkan perawatan di rumah sakit.
"Puskesmas Padasuka untuk melihat tren peningkatan kasus ILI, untuk pasien yang datang rawat jalan. Kalau untuk yang SARI, fasilitas kesehatan yang ditunjuk adalah RSHS, mengamati penyakit saluran pernapasan akut yang berat, datanya didapat dari pasien-pasien yang masuk rawat inap," katanya menjelaskan.
Melalui dua sistem tersebut, petugas kesehatan dapat melihat perkembangan kasus dari tingkat gejala hingga hasil pemeriksaan. Data itu kemudian menjadi bahan untuk membaca pola penyebaran influenza di Jawa Barat.
Menurut Selvia, pemantauan tidak semata-mata ditujukan untuk menghitung jumlah kasus. Dinkes juga menggunakan data tersebut untuk melihat kemungkinan perubahan tren dan menyiapkan langkah mitigasi apabila terjadi peningkatan kasus.
Tujuan akhirnya adalah agar respons kesehatan masyarakat dapat disesuaikan dengan kondisi epidemiologi yang ditemukan di lapangan.
Baca Juga: Lindungi Relawan, Dinkes Jabar Siapkan Suntik Anti Tetanus di Lokasi Longsor Cisarua
RSHS Catat 63 Kasus SARI, Hanya 10 Positif Influenza
Berdasarkan data Sentinel SARI di RSHS Bandung, terdapat 63 kasus dengan gejala infeksi saluran pernapasan akut berat sepanjang minggu pertama hingga minggu ke-35 2026.
Namun, pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa tidak seluruh pasien tersebut terinfeksi virus influenza.
Dari 63 kasus yang diperiksa, sebanyak 10 kasus terkonfirmasi sebagai influenza A atau influenza B. Sementara itu, kasus lainnya tidak terbukti disebabkan oleh kedua jenis influenza tersebut.
"Dari data Sentinel SARI ada 63 kasus, tapi setelah diperiksa yang terkonfirmasi ada 10, yang lainnya bukan influenza A atau B," kata Selvia.
Angka tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan laboratorium dalam membaca perkembangan kasus influenza Jabar. Gejala infeksi saluran pernapasan dapat muncul pada berbagai penyakit sehingga gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang terinfeksi influenza.
RSHS juga menerima pasien rujukan dari berbagai daerah di Jawa Barat. Karena itu, 63 kasus yang tercatat dalam surveilans SARI tidak seluruhnya berasal dari wilayah Kota Bandung.
Data tersebut mencerminkan pasien dari sejumlah kabupaten dan kota yang mendapatkan perawatan di RSHS sebagai salah satu rumah sakit rujukan.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Instruksikan Dinkes Jabar Siaga Hantavirus, Respons Cepat Jadi Kunci Pencegahan
Balita dan Dewasa Jadi Kelompok yang Banyak Terdeteksi
Dari pemantauan Dinkes Jabar, kelompok usia balita dan dewasa menjadi kelompok yang tercatat memiliki kasus paling banyak.
Kondisi ini menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam surveilans karena influenza dapat menimbulkan gejala dengan tingkat keparahan berbeda pada setiap kelompok usia.
Kementerian Kesehatan juga menempatkan anak usia di bawah lima tahun, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis sebagai kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat.
Secara nasional, sistem surveilans Kementerian Kesehatan dilakukan melalui puluhan fasilitas sentinel. Pada laporan minggu ke-37 yang diperbarui 19 September 2026, aktivitas influenza secara nasional masih dikategorikan rendah. Namun, proporsi influenza pada minggu ke-36 tercatat meningkat menjadi 46 persen dari 35 persen pada minggu sebelumnya.
Data nasional tersebut perlu dibaca sebagai gambaran surveilans Indonesia secara keseluruhan dan tidak dapat disamakan langsung dengan jumlah kasus terkonfirmasi yang dilaporkan Dinkes Jawa Barat.
Baca Juga: Raih Penghargaan Nasional, RSUD Welas Asih Buktikan Komitmen Layanan Kesehatan Berkualitas di Jabar
Influenza Berbeda dengan ISPA Biasa
Temuan 10 kasus influenza terkonfirmasi juga memperlihatkan bahwa tidak semua pasien dengan keluhan saluran pernapasan mengalami influenza.
Influenza merupakan infeksi yang disebabkan virus influenza dan menyerang sistem pernapasan. Sementara itu, istilah ISPA mencakup kelompok penyakit infeksi saluran pernapasan yang lebih luas.
Kementerian Kesehatan menyebut gejala influenza dapat muncul secara tiba-tiba, antara lain demam, batuk, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, sakit tenggorokan, serta hidung berair.
Karena gejalanya dapat menyerupai penyakit pernapasan lain, pemeriksaan menjadi bagian penting untuk memastikan penyebab infeksi.
Sistem ILI dan SARI kemudian membantu pemerintah memantau perubahan pola penyakit tersebut dari waktu ke waktu.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mengurangi risiko penularan influenza.
Langkah yang dianjurkan antara lain mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker ketika mengalami gejala seperti batuk atau pilek.
Masyarakat yang mengalami gejala juga dianjurkan membatasi kontak dengan orang lain dan beristirahat. Apabila kondisi memburuk atau tidak membaik, pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan diperlukan.
Vaksinasi influenza tahunan juga direkomendasikan bagi kelompok tertentu, terutama kelompok berisiko tinggi seperti lansia, ibu hamil, tenaga kesehatan, dan orang dengan penyakit kronis.
Dengan pemantauan melalui ILI dan SARI, Dinkes Jabar dapat terus mengikuti perkembangan kasus influenza Jabar sekaligus membedakan influenza dari penyakit saluran pernapasan lainnya.
Data tersebut menjadi dasar penting untuk menentukan respons apabila terjadi perubahan tren kasus di Jawa Barat.***
Baca Juga: Waspada Hantavirus! Kenali Penyebab, Gejala hingga Cara Penanganannya Sebelum Terlambat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1FiberStar Perluas Solusi Digital untuk Industri dan Bisnis di Jawa Barat
- 2MK Hapus Presidential Threshold, DPR Diminta Siapkan Aturan Pencalonan Pilpres 2029
- 3Belum Terdaftar Bansos? Ini Cara Mengusulkan Diri melalui Aplikasi Cek Bansos
- 4Cuaca Ekstrem Tak Halangi Panen Raya Semangka di Nagara Kalsel
- 5Dinkes Jabar Catat 10 Kasus Influenza, Balita dan Dewasa Paling Banyak Terdampak
- 6Waspada Influenza A di Bandung, Farhan Minta Orang Tua Tak Paksa Anak Masuk Sekolah
- 7DPRD Jabar Dorong Investasi Tetap Jaga Pohon dan Ruang Terbuka Hijau
- 8Kabel Lampu Lalu Lintas Dicuri di Bandung, Farhan Gandeng Polisi Buru Pelaku
- 9DPRD Jabar Dorong Investasi Tetap Jaga Pohon dan Ruang Terbuka Hijau
- 10Polda Jabar Perkuat Pengamanan FIFA ASEAN Cup 2026









