Disdik Jabar Siapkan 100 Fasilitator Pancawaluya untuk Dampingi Perubahan di Sekolah

AKURAT JABAR – Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menyiapkan 100 fasilitator melalui Pelatihan untuk Pelatih (PUP) Batch III Pendidikan Karakter Pancawaluya.
Program tersebut bertujuan memperkuat peran fasilitator sebagai pelatih sekaligus pendamping yang mampu mengawal perubahan di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, menyampaikan hal tersebut saat membuka PUP Batch III untuk jenjang SMA, SMK, dan SLB. Kegiatan itu berlangsung di BBPPMPV BMTI, Kota Cimahi, Rabu (16/9/2026).
Menurut Purwanto, fasilitator tidak cukup hanya menguasai materi pendidikan karakter. Mereka juga harus mampu mendampingi sekolah secara langsung agar nilai-nilai Pancawaluya dapat diterapkan dalam kegiatan sehari-hari.
“Setiap pelatih menjadi pendamping satu sekolah. Satu semester didampingi, kemudian semester berikutnya pindah ke sekolah berikutnya,” ujarnya.
Melalui pola pendampingan tersebut, Disdik Jabar ingin memastikan pendidikan karakter tidak berhenti pada kegiatan pelatihan. Sebaliknya, fasilitator diharapkan mampu membantu sekolah menghasilkan perubahan yang dapat dilihat dan dirasakan oleh seluruh warga sekolah.
Baca Juga: 150 Siswa Jabar Lulus Pendidikan Karakter Pancawaluya 2026 di Marinir Cilandak
Fasilitator Harus Memulai Perubahan dari Sekolah Sendiri
Purwanto menekankan bahwa proses perubahan perlu dimulai dari lingkungan terdekat. Sebelum membagikan praktik baik kepada sekolah lain, para fasilitator harus memastikan sekolah asal mereka telah melakukan pembenahan.
“Jangan sampai kita melatih orang lain, tetapi sekolah kita sendiri belum berubah. Selesaikan dulu masalah di sekolah sendiri. Bikin desain pembelajarannya benar, tata lingkungannya benar, dan budaya sekolahnya benar,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter Pancawaluya harus hadir dalam seluruh aspek kehidupan sekolah. Penerapannya tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga mencakup lingkungan, kebiasaan, serta budaya warga sekolah.
Karena itu, berbagai persoalan yang muncul di lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses pembelajaran. Sekolah dapat menghubungkan kebiasaan sehari-hari dengan materi pendidikan yang relevan.
Beberapa contoh yang disampaikan Purwanto meliputi kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman sehat, pengelolaan sampah, penghijauan, hingga pemanfaatan lahan sekolah.
Menurutnya, sekolah perlu melihat persoalan tersebut sebagai peluang untuk membangun karakter peserta didik.
“Sudahkah kantin kita terkoneksi dengan pembelajaran? Sudahkah sampah yang dihasilkan sekolah menjadi inspirasi pembelajaran? Ini persoalan pendidikan kita,” ungkapnya.
Purwanto juga mencontohkan pengembangan pendidikan berbasis lingkungan di Purwakarta. Ia menyebut arboretum bambu, sekolah ekologi, dan Mandala Karsa sebagai sejumlah inisiatif yang berkembang melalui kolaborasi berbagai pihak.
Kolaborasi tersebut melibatkan guru, mahasiswa, perguruan tinggi, komunitas, serta unsur sekolah lainnya. Dengan demikian, pendidikan karakter dapat berkembang melalui kerja sama dan praktik nyata di lingkungan pendidikan.
Baca Juga: 150 Siswa Jabar Ikuti Pendidikan Karakter Pancawaluya di Mako TNI Cilandak
Satu Fasilitator Mendampingi Satu Sekolah
Melalui PUP Batch III, Disdik Jabar menargetkan perluasan jangkauan pendampingan pendidikan karakter Pancawaluya pada jenjang SMA, SMK, dan SLB.
Purwanto berharap para fasilitator dapat mendampingi sekolah yang berada di sekitar tempat mereka bertugas. Pola tersebut memungkinkan pendampingan berlangsung secara langsung, konsisten, dan berkelanjutan.
“Kalau satu fasilitator menghasilkan satu sekolah yang berubah maka akan terjadi perubahan di sekolah tersebut. Kalau dilakukan secara konsisten, perubahan itu akan menyebar ke semakin banyak sekolah,” terangnya.
Ia juga mengingatkan peserta agar tidak hanya membawa teori ketika menjalankan tugas. Fasilitator perlu menunjukkan contoh praktik yang dapat segera diterapkan oleh sekolah dampingan.
“Jangan sampai hanya ngomong. Harus ada praktik baik. Besoknya, sekolah itu harus mulai melakukan,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya hubungan antara pelatihan dan penerapan di lapangan. Sekolah tidak hanya membutuhkan materi, tetapi juga pendampingan yang membantu warga sekolah menerjemahkan konsep menjadi kebiasaan.
Baca Juga: Sekda Jabar Dorong Implementasi Pancawaluya untuk Bentuk Generasi Muda Unggul
Pendidikan Pancawaluya Berkaitan dengan Pembelajaran Mendalam
Selain membahas pendampingan, Purwanto mengaitkan pendidikan karakter Pancawaluya dengan pengembangan pembelajaran mendalam.
Menurutnya, keterkaitan tersebut terlihat dalam pemanfaatan lingkungan belajar, kemitraan pembelajaran, teknologi digital, dan praktik pedagogis. Berbagai unsur itu dapat mendukung proses belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
Purwanto menyampaikan bahwa teknologi memudahkan seseorang memperoleh pengetahuan. Namun, pembentukan karakter, kesadaran, kemampuan berkolaborasi, dan keterampilan menghadapi persoalan nyata membutuhkan lingkungan pendidikan yang mendukung.
“Pengetahuan bisa diperoleh dari mana saja. Tantangan kita adalah bagaimana membangun karakter anak-anak kita,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia berharap para fasilitator dapat membantu membangun sekolah yang tidak hanya berorientasi pada penguasaan pengetahuan.
Sekolah juga perlu menjadi ruang yang aman, sehat, ramah, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik.
“Harapan orang tua ketika anaknya masuk sekolah harus kita jawab dengan baik, dengan menyiapkan ekosistem sekolah yang benar. Sekolah harus menjadi tempat yang aman untuk tumbuh dan berkembang anak-anak kita,” tuturnya.
Baca Juga: Kadisdik Purwanto Buka IHT Panca Waluya Purwakarta 2025, Libatkan 387 Sekolah
100 Peserta Mengikuti PUP Batch III
Sementara itu, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Disdik Jabar, Ervin Aulia Rachman, menjelaskan bahwa PUP Batch III menjadi bagian dari strategi penguatan kapasitas fasilitator pendidikan karakter Pancawaluya.
Sebelumnya, Disdik Jabar telah menerapkan pendidikan karakter Pancawaluya melalui kegiatan in-house training pada jenjang SMA, SMK, dan SLB.
Setelah itu, Disdik melakukan rekrutmen fasilitator secara terbuka untuk menjaring pelatih dari berbagai latar belakang.
Ervin berharap para peserta dapat menjalankan tiga fungsi strategis dalam pelaksanaan program tersebut.
“Diharapkan, para fasilitator mampu menjalankan peran sebagai pelatih, pendamping, dan penggerak pendidikan karakter Pancawaluya di wilayah masing-masing,” ujarnya.
Dengan tiga peran tersebut, fasilitator tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelatihan. Mereka juga perlu mendampingi sekolah dan menggerakkan penerapan pendidikan karakter di wilayah tugasnya.
Baca Juga: Beasiswa Pancawaluya Ringankan Beban Siswa SMKN 1 Bandung, Tingkatkan Semangat Belajar
Keteladanan Menjadi Langkah Awal
Salah seorang peserta PUP Batch III, Upia Nuraeni, menilai pendidikan karakter Pancawaluya merupakan proses untuk menumbuhkan karakter seluruh warga sekolah.
Ia menyebut nilai cageur, bageur, bener, pinter, tur singer sebagai bagian penting dalam proses tersebut. Menurutnya, penerapan nilai-nilai itu membutuhkan kebiasaan yang dilakukan secara konsisten dan penuh kesadaran.
“Pendidikan karakter Pancawaluya adalah sebuah proses untuk menumbuhkan karakter warga sekolah. Bukan hanya memahami konsep, tetapi bagaimana nilai tersebut menjadi kebiasaan dan dilakukan setiap hari dalam kondisi berkesadaran,” tuturnya.
Upia menyadari bahwa fasilitator harus memulai penerapan nilai-nilai tersebut dari dirinya sendiri. Setelah itu, ia dapat mengembangkan praktik baik di lingkungan pendidikan terdekat.
“Sebelum mengimbaskan keilmuan yang saya peroleh, saya ingin mengimplementasikannya terhadap diri sendiri, kemudian terhadap ruang lingkup terkecil, yakni satuan pendidikan,” ucapnya.
Ia berharap para fasilitator PUP Batch III dapat menjadi teladan sekaligus penggerak perubahan di sekolah masing-masing.
“Pendidikan Pancawaluya harus menjadi kebutuhan, bukan hanya dilakukan ketika ada kegiatan atau pelatihan. Ini adalah pendidikan karakter untuk membangun pribadi yang sejati, dilakukan setiap hari tanpa keterpaksaan dan dalam kondisi berkesadaran,” tuturnya.
Pelatihan Berlangsung Selama Tiga Hari
PUP Batch III berlangsung selama tiga hari, mulai 15 hingga 17 September 2026. Kegiatan tersebut diikuti 100 peserta yang terdiri dari 34 peserta jenjang SMA, 42 peserta SMK, dan 24 peserta SLB.
Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh penguatan materi dari sejumlah narasumber. Beberapa di antaranya ialah Prof. Jejen Saripudin dari Universitas Pendidikan Indonesia serta Mohamad Rijal dan tim dari Self Learning Institute (SLI).
Pelaksanaan kegiatan juga mendapat dukungan dari Kepala BBPPMPV BMTI. Melalui pelatihan ini, Disdik Jabar mendorong terbentuknya fasilitator yang mampu menghubungkan pemahaman pendidikan karakter dengan praktik nyata di sekolah.
Program pendampingan selanjutnya diharapkan dapat membantu sekolah membangun lingkungan pendidikan yang mendukung pembentukan karakter peserta didik secara konsisten dan berkelanjutan. (Red)
Baca Juga: Sinergi 27 Kabupaten/Kota, Disdik Jabar Matangkan Perencanaan Pendidikan Generasi Pancawaluya
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1AMP Soroti Respons BK DPRD Purwakarta soal Aduan Dugaan Pelanggaran Etik Anggota Dewan
- 2Persib Menang atas FC Seoul, Gol Julio Cesar Bawa Maung Bandung Raih Tiga Poin di ACL Two
- 3Pengamat Soroti Empat Persoalan MBG Purwakarta, Dorong Evaluasi Kepemimpinan Korwil
- 4PERSIB Turunkan Marc Klok sebagai Kapten, Thom Haye Cadangan Lawan FC Seoul
- 5PERSIB di ACL Two 2026/27: Ini Jadwal Lengkap 6 Pertandingan Grup E
- 6Desa Wisata Bantar Agung Majalengka, Pesona Alam dan Budaya Sunda di Kaki Gunung Ciremai
- 7Pemkab Bekasi Kembangkan Alarm Digital Inflasi, Respons Gangguan Harga Ditargetkan Dua Hari
- 8Trans Wibawamukti Koridor 2 Disiapkan, Hubungkan Stasiun Cikarang dengan Pemda Bekasi
- 9Disdik Jabar Siapkan 100 Fasilitator Pancawaluya untuk Dampingi Perubahan di Sekolah








