Jabar

Desa Wisata Bantar Agung Majalengka, Pesona Alam dan Budaya Sunda di Kaki Gunung Ciremai

Didin Wahidin | 16 September 2026, 12:36 WIB
Desa Wisata Bantar Agung Majalengka, Pesona Alam dan Budaya Sunda di Kaki Gunung Ciremai
Desa Wisata Bantar Agung di Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, menawarkan perpaduan wisata alam, budaya, pertanian, edukasi, dan kehidupan masyarakat lokal. - (Akurat Jabar/Humas Disparbud Jabar)

AKURAT JABAR – Di tengah perkembangan pariwisata yang semakin modern, Kabupaten Majalengka tetap memiliki sejumlah destinasi yang mengandalkan kekuatan alam dan kearifan lokal.

Salah satunya adalah Desa Wisata Bantar Agung, Kecamatan Sindangwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Berada di kawasan kaki Gunung Ciremai, desa ini menawarkan perpaduan antara panorama alam, kehidupan pedesaan, budaya Sunda, aktivitas edukasi, hingga produk ekonomi masyarakat.

Pengembangan Bantar Agung sebagai desa wisata tidak muncul secara instan. Masyarakat setempat sebelumnya melihat adanya potensi besar yang belum sepenuhnya dikelola.

Kekayaan alam, budaya, serta kehidupan masyarakat desa kemudian menjadi modal untuk membangun aktivitas pariwisata berbasis masyarakat.

Kini, Bantar Agung berkembang dengan berbagai pilihan destinasi dan aktivitas wisata. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan, tetapi juga dapat berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat setempat.

Baca Juga: Iendra Sofyan Resmikan 7 Desa Wisata Subang 2025, Perkuat Destinasi Unggulan Jabar

Berawal dari Curug Cipeuteuy

Salah satu tonggak pengembangan wisata di Bantar Agung adalah pengelolaan Curug Cipeuteuy sebagai destinasi wisata alam.

Dari pengembangan tersebut, masyarakat kemudian memperluas daya tarik wisata ke sejumlah kawasan lainnya. Di antaranya Ciboer Pass, Awi Lega, Kampung Herbal Mertasela, Sawah Pakuwon, serta kawasan pertanian yang dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukasi.

Keberadaan berbagai destinasi tersebut membuat konsep wisata Bantar Agung tidak hanya bertumpu pada satu objek.

Wisatawan dapat memilih pengalaman yang berbeda, mulai dari menikmati lanskap persawahan, menjelajahi kawasan hutan, mengenal tanaman herbal, hingga mengikuti aktivitas masyarakat desa.

Data pada platform resmi Jejaring Desa Wisata (JADESTA) Kementerian Pariwisata juga mencatat sejumlah produk wisata Bantar Agung, termasuk wisata alam, wisata budaya, aktivitas pertanian organik, penanaman pohon endemik, serta program live-in bersama masyarakat.

Baca Juga: Revitalisasi Vokasi Pariwisata Digenjot, 483 Skema Okupasi Diluncurkan di Bandung

Fasilitas Wisata Terus Berkembang

Pertumbuhan desa wisata turut diikuti dengan pengembangan fasilitas untuk wisatawan.

Berdasarkan informasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat, Desa Wisata Bantar Agung saat ini memiliki 132 homestay, enam villa dan cottage, serta area perkemahan. Fasilitas pendukung lainnya mencakup pusat UMKM, tempat ibadah, hingga akses menuju pelayanan kesehatan.

Ketersediaan homestay menjadi bagian penting karena konsep wisata Bantar Agung tidak hanya menawarkan kunjungan singkat. Wisatawan juga dapat tinggal lebih lama dan merasakan suasana kehidupan masyarakat desa.

Platform wisata resmi Bantaragung bahkan mencatat beragam atraksi yang dapat dinikmati pengunjung, mulai dari Curug Cipeuteuy, Terasering Ciboer Pass, Bumi Perkemahan Awilega, Kampung Herbal Mertasela, Bukit Batu Semar, hingga Pasar Bumi Pakuwon.

Menikmati Alam dari Dekat

Lokasi Bantar Agung di kawasan kaki Gunung Ciremai membuat wisata alam menjadi salah satu kekuatan utama desa tersebut.

Wisatawan dapat menikmati suasana persawahan, melakukan trekking, berkemah, hingga menjelajahi kawasan hutan. Aktivitas tersebut memberikan pengalaman berbeda karena pengunjung berada langsung di tengah lingkungan alam dan kehidupan masyarakat.

Salah satu kawasan yang menarik perhatian adalah Terasering Ciboer Pass. Hamparan persawahan menjadi bagian dari lanskap wisata sekaligus ruang edukasi pertanian.

Selain menikmati pemandangan, wisatawan juga dapat mengikuti aktivitas pertanian. Konsep tersebut memungkinkan pengunjung mengenal proses produksi pangan secara lebih dekat sekaligus memahami kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.

Di sisi lain, Curug Cipeuteuy menawarkan pengalaman wisata alam berupa air terjun dengan suasana kawasan hutan. Berdasarkan informasi Indonesia.travel, kawasan tersebut juga dilengkapi sejumlah fasilitas pendukung seperti sanitasi, tempat makan dan musala.

Baca Juga: Kampung Adat Bojong Honje, Destinasi Wisata Budaya Purwakarta yang Menjaga Tradisi di Tengah Modernisasi

Live-In, Wisatawan Bisa Merasakan Kehidupan Warga

Bantar Agung juga menawarkan pengalaman yang lebih interaktif melalui program Live-In.

Melalui program tersebut, wisatawan dapat tinggal di rumah penduduk dan mengikuti berbagai aktivitas masyarakat. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain bertani, beternak, memanen buah, hingga belajar mengolah makanan tradisional.

Konsep ini membuat wisata tidak hanya berorientasi pada pemandangan. Interaksi dengan warga menjadi bagian dari pengalaman perjalanan.

Program live-in juga tercatat dalam platform JADESTA sebagai salah satu produk wisata Bantar Agung. Salah satu program yang tersedia adalah pengalaman live-in bersama UMKM emping melinjo.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat bukan hanya menjadi penerima manfaat dari kedatangan wisatawan. Warga juga terlibat sebagai pelaku yang menyediakan akomodasi, makanan, produk UMKM, aktivitas edukasi, hingga pengalaman budaya.

Baca Juga: Genjot Ekonomi Warga, Sekda Jabar Herman Suryatman Susun Strategi Pariwisata Unggulan 2027

Pasar Bumi Pakuwon Hadirkan Suasana Tradisional

Bagi wisatawan yang ingin menikmati kuliner sekaligus mengenal produk masyarakat, Pasar Bumi Pakuwon menjadi salah satu pilihan.

Pasar tersebut digelar secara berkala di kawasan persawahan terasering Desa Wisata Bantar Agung. Konsepnya menggabungkan kuliner lokal, hasil pertanian, produk UMKM, serta pertunjukan seni dan budaya.

Informasi terbaru dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat menyebut Pasar Bumi Pakuwon 2026 dijadwalkan berlangsung secara bulanan. Kegiatan tersebut berlokasi di kawasan Sawah Pakuwon dan terbuka untuk pengunjung.

Menariknya, transaksi di pasar tersebut menggunakan alat tukar khusus berupa koin kayu atau bambu. Konsep ini menjadi bagian dari pengalaman budaya yang ditawarkan kepada pengunjung.

Bantar Agung Masuk 15 Besar WIA 2026

Perkembangan Desa Wisata Bantar Agung juga mendapatkan pengakuan melalui berbagai ajang pariwisata.

Pada tingkat Jawa Barat, Bantar Agung sebelumnya masuk 15 besar pengelola desa/kampung wisata terbaik dalam Smiling West Java Integrated Tourism Destination Management Award (SWJ ITDMA) 2026. Pengumuman tersebut dilakukan Disparbud Jabar pada Juli 2026 dari 44 peserta yang mengikuti proses seleksi.

Bantar Agung kemudian melanjutkan proses menuju ajang tingkat nasional. Informasi terbaru menunjukkan desa tersebut masuk 15 besar Wonderful Indonesia Awards 2026 kategori Desa/Kampung Wisata.

Tahapan WIA 2026 sendiri mencakup proses kurasi dan penilaian, termasuk visitasi lapangan terhadap peserta yang masuk jajaran 15 besar.

Masuknya Bantar Agung dalam jajaran tersebut menjadi bagian dari perjalanan pengembangan desa wisata berbasis masyarakat di Jawa Barat.

Baca Juga: Ikonik! Wajah Baru Wisata Ciater Subang Hadirkan Gerbang Mendak Waluya Bergaya Sunda Modern

Potensi Wisata yang Bertumpu pada Masyarakat

Pengembangan Bantar Agung menunjukkan bahwa desa wisata tidak selalu harus mengandalkan pembangunan atraksi buatan.

Kekuatan alam, budaya, pertanian, kuliner, serta aktivitas keseharian masyarakat dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata.

Dalam konteks Bantar Agung, berbagai potensi tersebut kemudian dipadukan melalui pengelolaan destinasi, homestay, UMKM, wisata edukasi, dan kegiatan budaya.

Platform resmi Visit Bantaragung saat ini mencantumkan sedikitnya 22 pilihan destinasi dan aktivitas, termasuk atraksi budaya, wisata alam, edukasi pertanian, camping, live-in, kuliner tradisional, hingga aktivitas konservasi lingkungan.

Keberagaman tersebut membuat Bantar Agung memiliki pilihan aktivitas bagi wisatawan dengan minat berbeda.

Ada yang ingin menikmati ketenangan alam, ada yang mencari pengalaman berkemah, sementara wisatawan lainnya dapat memilih aktivitas edukasi dan interaksi dengan masyarakat.

Pada akhirnya, Desa Wisata Bantar Agung bukan sekadar menawarkan panorama kaki Gunung Ciremai. Desa ini memperlihatkan bagaimana alam, budaya Sunda, pertanian dan aktivitas masyarakat dapat dirangkai menjadi pengalaman wisata yang lebih utuh.

Pengembangan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa ketika potensi lokal dikelola secara konsisten dan melibatkan masyarakat, desa dapat memiliki ruang yang lebih besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi lokal.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.