Jabar

Padukan Seni dan Ekologi, Jampang Creative Camp 2 Ubah Pantai Minajaya Jadi Ruang Belajar Terbuka

Didin Wahidin | 11 Februari 2026, 08:00 WIB
Padukan Seni dan Ekologi, Jampang Creative Camp 2 Ubah Pantai Minajaya Jadi Ruang Belajar Terbuka

AKURAT JABAR – Pesisir selatan Jawa Barat kembali menjadi pusat perhatian melalui perhelatan Jampang Creative Camp Pantai Minajaya (JCC) 2 yang digelar pada 31 Januari hingga 1 Februari 2026.

Mengusung pendekatan pendidikan kreatif, ajang ini menjadikan lanskap Pantai Minajaya di Kabupaten Sukabumi sebagai laboratorium hidup untuk kolaborasi seni, budaya, dan pelestarian lingkungan.

Inisiatif inspiratif ini digagas oleh pemuda Pajampangan yang tergabung dalam Pakidolan Lab (Eco Art & Cultural Laboratory) di bawah Yayasan Sri Manggala Nusantara.

Pada tahun kedua ini, JCC 2 naik kelas melalui kolaborasi dengan Multimedia Nusantara Polytechnic dan menjadi bagian dari Program Inovasi Seni Nusantara 2025 besutan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) RI.

Baca Juga: Kejurda Pencak Silat Pelajar Jabar 2025 Resmi Ditutup, Sukabumi Sabet Juara Umum

 

Menghidupkan Tradisi 'Nganteuran Sagara'

Dengan tema 'Kutamadu Nu Jadi Mahkota, Laut Kidul Purba Kudu Jadi Harta', JCC 2 mengajak peserta menggali nilai geologi purba dan sejarah budaya pesisir yang selama ini tersembunyi di Pantai Minajaya.

Sebagai pembuka, prosesi budaya Nganteuran Sagara digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap laut sebagai sumber kehidupan.

Peserta terlibat langsung dalam rangkaian ritual seperti mepes laut, ngarujak garam, hingga larung saji dan kirab pangan.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan media edukasi bagi generasi muda untuk mengenali kearifan lokal sekaligus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga ekosistem laut.

Baca Juga: Soal Anggaran Replika Penyu di Alun-alun Gadobangkong Sukabumi, Pemerintah Beri Penjelasan

 

Inovasi Seni: Tari Kontemporer dan Projection Mapping

Salah satu daya tarik utama JCC 2 adalah pertunjukan seni bertajuk 'Beach, Body, Broken'. Karya tari kontemporer ini tampil memukau dengan balutan teknologi projection mapping hasil kolaborasi bersama Multimedia Nusantara Polytechnic.

Pertunjukan ini menggunakan tubuh penari sebagai medium untuk menggambarkan kerentanan ekosistem pesisir.

Simbol mangrove hadir secara visual untuk mengirimkan pesan kewaspadaan terhadap krisis lingkungan.

Melalui eksplorasi artistik ini, Pantai Minajaya tidak hanya dipandang sebagai destinasi wisata, tetapi juga panggung refleksi atas kondisi alam saat ini.

Baca Juga: KDM Janji Infrastruktur Desa Sukabumi Jadi Prioritas, Ajak Kades Kerja Sebaik-baiknya

 

Aksi Nyata Penanaman Mangrove di Pesisir

Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, panitia bersama masyarakat dan peserta melakukan penanaman mangrove di sepanjang bibir pantai.

Aksi ini merupakan upaya konkret dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan memperkuat perlindungan wilayah pantai sebagai ruang hidup bersama.

Kegiatan ini turut didukung oleh Global Geopark Youth Forum (GGYF), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, serta berbagai akademisi dan komunitas kreatif di Jawa Barat.

Baca Juga: Sesalkan Pengrusakan Rumah Doa di Sukabumi, Kemenag Rancang Regulasi Khusus Perkuat Kerukunan Beragama

Kolaborasi lintas sektor ini menegaskan posisi JCC 2 sebagai motor penggerak kesadaran ekologis di wilayah Pajampangan.

Pada akhirnya, Jampang Creative Camp 2 sukses membuktikan bahwa pertemuan antara pengetahuan lokal, seni modern, dan aksi lingkungan mampu menjadi solusi untuk merawat masa depan pesisir selatan Jawa Barat secara berkelanjutan.

Baca Juga: Gandeng KCIC dan KAI, Disparbud Jabar Dorong Wisata Berbasis Jalur Kereta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.