Jadikan Pilot Project Nasional, Mendiktisaintek Brian Yuliarto Bakal Terjunkan Mahasiswa KKN Tangani Sampah Bandung

AKURAT JABAR – Mendiktisaintek Brian Yuliarto berkomitmen membantu Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dalam menuntaskan persoalan sampah.
Strategi utamanya adalah melibatkan kekuatan mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik untuk mengedukasi masyarakat dan memetakan infrastruktur pengolahan.
Oleh karena itu, Brian menilai kolaborasi ini akan jauh lebih efisien secara anggaran dibandingkan membangun fasilitas waste to energy yang mahal.
Sebab, kampus akan berperan memetakan kebutuhan teknis seperti komposting, biodigester, hingga teknologi RDF (Refuse Derived Fuel).
"Kita libatkan kampus untuk memetakan rantai pasoknya, lalu kita usulkan ke pusat agar tidak membebani APBD," ujar Brian saat berkunjung ke Balai Kota Bandung, Rabu (25/2/2026).
"Jika model di Bandung ini sukses, tahun depan kita terapkan secara nasional," sambung dia.
Bandung Jadi Panggung Percontohan Nasional
Berdasarkan data pusat, Bandung terpilih menjadi satu dari lima daerah pilot project pengelolaan sampah berbasis kolaborasi kampus. Selain Bandung, program ini menyasar Bogor, Tangerang, Purwokerto, dan Yogyakarta.
Maka dari itu, langkah penegakan hukum (gakum) juga akan diperketat bagi sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka).
Brian menegaskan bahwa pihak TNI-Polri akan turut mengawasi kepatuhan pelaku usaha, sembari memberikan insentif bagi mereka yang taat aturan.
Pemkot Bandung Luncurkan Pasukan 'Gaslah' di Tiap RW
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengungkapkan bahwa produksi sampah di wilayahnya mencapai 1.507,85 ton per hari.
Pasalnya, dari jumlah tersebut, baru sekitar 21,63 persen sampah yang benar-benar terkelola dan terpilah secara efektif.
Sebagai solusi di hulu, Pemkot Bandung resmi meluncurkan program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Sebanyak 1.597 petugas telah direkrut untuk bertugas di setiap RW di seluruh Kota Bandung.
"Petugas Gaslah bertugas mengetuk pintu warga, mengedukasi pemilahan, dan mengangkut sampah organik. Targetnya, setiap petugas mengumpulkan minimal 25 kg sampah organik per hari," jelas Farhan.
Membangun Ekosistem Ekonomi Sirkular
Lebih lanjut, Farhan menekankan pentingnya mengubah pola pikir masyarakat. Ia mengintegrasikan program Kang Pisman, Buruan Sae, dan Dapur Sehat ke dalam satu ekosistem sirkular.
Sampah organik yang terolah menjadi kompos akan digunakan untuk pertanian perkotaan (urban farming), yang hasilnya kembali dikonsumsi warga.
Hasilnya, Pemkot Bandung menargetkan penurunan produksi sampah dari 0,58 kg menjadi di bawah 0,4 kg per orang setiap harinya.
Dengan demikian, kesadaran sosial dan penegakan aturan menjadi kunci utama agar teknologi pengolahan tidak sia-sia.
"Sampah bukan soal dihilangkan, tapi dikelola. Kita sedang membangun budaya, bukan sekadar membeli teknologi," pungkas Farhan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ade Kuswara Divonis 6 Tahun Penjara, Wajib Bayar Uang Pengganti Rp10,4 Miliar
- 2Dua Dekade Pimpin EWINDO, Glenn Pardede Dorong Inovasi Benih untuk Petani
- 3Polda Jabar Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang ke Perairan Jawa Barat
- 4Hakim PN Bandung Perintahkan KPK Kembalikan Barang Bukti Istri Ono Surono
- 5Halte BRT Cicadas di Tengah Jalan Dikeluhkan, Farhan Pastikan Awasi Kemacetan
- 6PERSIB Pulihkan Kondisi di Tangerang, Bersiap Hadapi FC Seoul di ACL Two
- 7Desil 1-4 September 2026 Dapat Bansos Apa? Ini Daftar dan Nominalnya
- 8Kebakaran Lahan Ciumbuleuit, Farhan Dorong Penyelidikan Dugaan Pembuangan Sampah Ilegal
- 919 Warga Terdampak Asap Kebakaran Ciumbuleuit, Mayoritas Alami ISPA
- 10Hakim PN Bandung Perintahkan KPK Kembalikan Barang Bukti Istri Ono Surono










