Jabar

Jelang Idul Adha, Harga Sembako di Jawa Barat Cenderung Turun Selama Mei 2025

| 3 Juni 2025, 09:31 WIB
Jelang Idul Adha, Harga Sembako di Jawa Barat Cenderung Turun Selama Mei 2025

AKURAT JABAR - Berbeda dengan hari raya Idul Fitri pada April 2025, menjelang hari raya Idul Adha, harga sembilan bahan pokok (sembako) selama Mei 2025 kembali ke posisi semula atau mengalami penurunan, terutama pada komoditas sayur-sayuran.

Dengan demikian, kondisi tersebut membuat Jawa Barat akhirnya mengalami deflasi (penurunan harga barang/jasa) setelah dua bulan berturut-turut mengalami inflasi.

Plt. Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat (BPS Jabar) Darwis Sitorus mengungkapkan, deflasi yang terjadi pada Mei 2025 mampu menahan laju inflasi tahunan Jabar.

Baca Juga: Anindya Bakrie dan Dedi Mulyadi Berkolaborasi: Strategi Baru Perekonomian Jabar

Darwis menyebutkan, inflasi tahun berjalan (year to date) sebesar 0,98 persen dan inflasi tahun ke tahun ( yoy) sebesar 1,47 persen.

Sementara itu, komoditas yang menjadi pendorong deflasi antara lain bawang putih (0,03 persen), daging ayam ras (0,04 persen), cabai merah (0,07 persen), bawang merah (0,10 persen), dan cabai rawit (0,12 persen).

"Kalaupun terjadi deflasi, ada pula komoditas yang mengalami inflasi antara lain tomat (0,04 persen), emas perhiasan (0,02 persen), dan tarif pulsa telepon seluler (0,02 persen)," jelas Darwis melalui keterangan persnya, Senin (2/6/2025).

Baca Juga: Hadapi Tekanan Ekonomi Global, Gubernur Jabar Siapkan Insentif Industri

Berdasarkan kelompok produksi, terdapat tiga kelompok yang mengalami deflasi secara bulanan, yaitu kelompok makanan, minuman, dan tembakau (sebesar 1,14 persen).

Selanjutnya, kelompok angkutan (sebesar 0,25 persen) dan kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga mengalami deflasi (sebesar 0,01 persen).

"Setelah lebaran harga pangan kembali normal, tarif angkutan juga kembali normal hingga terjadi deflasi," kata Darwis.

Baca Juga: Panen Jagung di Garut, Gubernur Dedi Mulyadi Dorong Sektor Pertanian Jadi Tiang Utama Ekonomi Pedesaan

"Jika kenaikan tarif panggilan telepon seluler ini mendorong kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami inflasi sebesar 0,29 persen," jelasnya.

Ia menambahkan, jika dilihat berdasarkan kabupaten/kota secara bulanan ( month to month ), menunjukkan semuanya mengalami deflasi.

Adapun kabupaten/kota yang mengalami deflasi tertinggi yaitu Kota Bandung (0,46 persen) disusul Kabupaten Bandung (0,37 persen). Sedangkan deflasi terendah dialami Kota Tasikmalaya sebesar 0,01 persen.

Baca Juga: Dorong Dekranasda Jadi Agregator Potensi Ekonomi Jabar, Sekjen Herman Minta Penguatan 3D

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.